Pada satu saat, tercatat oleh tinta sejarah pergantian khalifah terjadi. Saat itu Abu bakar as shidiq meninggal dunia dan sayidina Umar Bin Khatab diangkat menjadi penggantinya. Di belahan tempat yang lain, Khalid bin walid sedang memimpin perang jihad melawan musuh-musuh Islam dimana pada waktu yang tidak lama setelah khalifah berganti, maka perintah pertama dari khalifah adalah mencopot jabatan Khalid sebagai panglima. Pergantian ini dilakukan ketika perang berkecamuk sangat hebat , dan apa yang dilakukan Khalid ?, Khalid tetap berperang dengan sepenuh kemampuannya dibawah kepemimpinan panglima baru yang baru saja diangkat oleh Khalifah.
Sepenggal kisah dari epik yang penuh kepahlawanan ini sangat layak kita renungi. Bagaimana tidak, seorang panglima yang sedang memimpin perang dicopot dari jabatannya tapi tetap tawadhu tanpa banyak tanya , dan terus mencurahkan kemampuannya untuk TUJUAN AWAL yang diperjuangkan. Tak penting bagi Khalid apakah dia menjadi panglima atau bukan karena yang paling penting untuk Khalid adalah KEMULIAAN ISLAM. Dan akhirnya sejarahpun mencatat alasan dari sang Khalifah untuk mencopot Khalid dari jabatan panglima adalah karena pamor Khalid telah lebih besar dari pamor pasukan Islam itu sendiri. Saat itu ada anggapan, bahwa Kahlid lah penyebab setiap kemenangan dalam setiap peperangan. Khalifah ingin mendidik umat bahwa bukan Khalid lah penyebab kemenangan yang diraih oleh pasukan islam. Khalifah ingin megatakan pada dunia, bahwa kemanapun pasukan Islam berangkat Insya Allah akan memang karena Allah yang memenangkannya bukan personil.
Pertanyaannya adalah, bisakah kita seperti Khalid ? Bisakah kita terus berjuang untuk sebuah visi tanpa peduli posisi ? Mari kita tanya pada diri kita sendiri.


Mampukah kita? Tanyalah hati nuranimu, mampukah?
betul sahabat ….kita harus tanya kepada nurani kita…karena nurani tak pernah berdusta dan tidak bisa didustai..
ya..semoga di tahun2 akan datang..kita bisa menemukan ‘Khalid-Khalid’ baru di negara ini..amin
Untuk menerima suatu hal yang tidak diinginkan oleh nafsu memang tidak mudah, taapi ketika 4WI ysang jadi orientasinya apa sih susahnya buat 4WI mebuat hati kita selalu ringan menjalankan setiap aktivitas demi satu hal
MARDHOTILLAH
harus bisa, sebab perjuangan ini begitu panjang melebihi usia kita, kita tidak tau di generasi mana sebuah hasil kan diraih dan dinikmati, sehingga perlu estafet pengembanan tugas. sehingga generasi berikutnya bisa terus melanjutkan perjuangan tanpa memulai lagi dari nol.
hidup kaderisasi!
subhanallah…. andai diri ini berada pada posisi kholid waktu itu.. sungguh diri ini akan bimbang dan jatuh semangat.. tapi maklumlah diri ini hanya manusia lemah dan tak punya apa-apa.. yang diri ini inginkan hanyalah mendapatkan petunjuk dan ridhoNya.. semoga Allah menjadikan diri ini setangguh, seistiqomah dan berjuang untuk islam seperti khalid yang tanpa memandang kedudukannya berjuang dalam perang memenangkan kejayaan islam demi kemuliaan ISLAM.. amiin.
SEMANGAT…!!! LANJUTKAN… ALLAHUAKBAR..
Subhanallah,dinegeri kita dinegeri ini rasanya tidak mungkin muncul pribadi seindah Khalid. Untuk mengejar kedudukan orang sanggup menghalalkan segala cara. Sudah jelas gagal tidak ada seorang pejabatpun yang mau mengakui kegagalannya dan bersedia mundur dengan ikhlas. Kemiskinan dan penganguran meningkat tidak diakui malah disulap seolah-olah menurun. Ya Allah sadarkanlah para pemimpin kami untuk amanah. Hembuskannlah sebagian saja kemuliaan Khalid.