Kita dan bintang

Agustus 28, 2007

Sahabat …
Lihatlah langit di luar sana
Ada cahaya rembulan yang begitu indah terpancar
Lihat pula gemerlap bintang yang begitu banyak
Semuanya bersinar gemerlap bak mutiara yang bertaburan di angkasa
Lantas bagaimana dengan diri kita ?
Sudahkah kita memancarkan gemerlap diri kita ?
Bukan gemerlap kemewahan
Tapi gemerlap sinar yang indah dan menyejukkan
Memberi damai
Memberi manfaat
Menjadi petunjuk arah dan penerang jalan mereka yang ada dalam kegelapan

Sahabat …
Ingatlah ….
Matahari dikatakan gagal jika tak mampu lagi menyinari
Bintang dikatakan gagal tatkala tak lagi mampu bersinar menghiasai semesta
Dan manusia
Akan bisa dikatakan gagal tatkala dia tak lagi mampu berkontribusi

Saatnya lihat potensi diri
Kembangkan sampai puncak prestasi
Saatnya tuli pada pengaruh negatif orang lain
Yakini, kita adalah anugerah terbaik yang pernah hadir di muka bumi

RAISYA DAN KEPEDULIAN KITA

Agustus 24, 2007

Akhir-akhir ini media di hebohkan dengan dengan diculiknya seorang anak pengusaha yang bernama Raisya. Nyaris semua koran menjadikan berita ini sebagai headline, tak ketinggalan Radio dan TV pun membahasnya dalam diskusi-diskusi yang panjang. Kejadian inipun telah membuat para petinggi Republik ini turun tangan mengomentari dan berbicara. Presiden tampil di Infotaiment berkata banyak tentang hal ini,kehebohan yang luar biasa.

Ditengah kehebohan cerita ini yang akhirnya mencapai klimaks hari ini dengan dikembalikannya raisya oleh para penculiknya kepada keluarganya, saya termenung melihat berita yang lainnya yang diberitakan dilayar TV tepat setelah berita tentang raisya. Ada berita seorang anak di Sumatera Utara yang di siksa oleh orang tua angkatnya dengan cara dimasukkan kedalam sebuah kotak kecil.Sungguh bocah 11 tahun itu sangat menderita. Tak terasa airmata ini menetes ketika kamera menzoom dua kaki yang bak tulang saja. Belum habis kesedihan ini, istri saya mengingatkan juga tentang sebuah kisah lagi, dimana ada seorang anak yang juga disiksa oleh keluarganya dengan bertahun-tahun disekap di Toilet keluarganya sendiri…duhhh…teriris hati mendengarnya dan ditengah keprihatinan itu saya lantas bertanya “ KALAU TENTANG KASUS DUA ANAK TADI PRESIDEN NGOMONG NGGAK SIH ? , MENTRI PEDULI NGAK SIH ? “ Ada rasa marah dalam jiwa ketika melontarkan pertanyaan itu.

Bukannya tidak peduli pada RAISYA karena sebagai seorang ayah dari dua orang anak, saya sangat faham arti anak saya untuk saya. Tapi saya hanya mempertanyakan perhatian yang aneh dari negeri ini. Raisya YANG ANAK PENGUSAHA BESAR telah menyita perhatian semua orang. Dan DUA ORANG ANAK MALANG YANG ENTAH NAMANYAPUN SAYA TIDAK HAFAL telah luput dari perhatian kita. Layar TV hanya menayangkan tetangganya yang penuh gundah berkata-kata penuh kemarahan akan kekejaman yang dialami anak itu dengan sebuah keterangan kecil dibawahnya “ TETANGGA KORBAN “. Tak ada sorotan kamera yang berlebih, hanya satu Televisi saja yang menayangkannya itupun tidak jadi headline, hanya sebuah berita disebuah tayangan morning show sebuah TV saja.Ya itulah nasib seorang anak negeri yang entah siapa namanya.

Saatnya kita berfikir ulang tentang kepedulian kita, benarkah kita SUDAH PEDULI ? atau justeru kita hanyalah PENIKMAT SENSASI ?

Berhenti Berarti mati

Agustus 20, 2007

Sahabat, hidup adalah sebuah kompetisi yang tak pernah usai. Tersedia dua pilihan dalam sebuah kompetisi ini yaitu menjadi pecundang atau hadir sebagai pemenang.

Kalau kita berkaca pada sebuah sejarah kegemilangan islam, selalu saja diwarnai oleh orang-orang yang berjiwa kompetitif dan pantang menyerah. Ingatlah sejarah masuknya Islam ke eropa yang dipimpin oleh tarik bin Ziad yang dengan gagah berani membakar seluruh kapal armada pasukan muslim sesampainya di tanah Eropa dan berkata “ Mundur berarti mati karena harus berenang mengarungi samudera yang ganas dan maju bisa juga mati namun dengan predikat syuhada dan mencapai kemuliaan dihadapan Allah” Sebuah semangat yang spektakuler yang menyebabkan nyaris seluruh eropa dikuasai oleh balatentara Islam.

Ini hanyalah satu pelajaran saja yang pernah terjadi dalam sejarah Islam, masih banyak lagi. Lihatlah bagaimana pula rasulullah dengan tak kenal lelah terus berjuang menyebarkan islam ini meski harus menghadapi sebuah permusuhan yang sengit dari para musuh Allah. Rasul tidak pernah memutuskan untuk berhenti bergerak. Coba sebentar saja kita berfikir, andai rasulullah memutuskan berhenti untuk menyebarkan risalah dakwah ini, apa yang terjadi ? mungkin kita sekarang masihlah menjadi pengikut abu jahal atau abu lahab.

Sahabat, ingatlah tatkala Yunus a.s memutuskan untuk meninggalkan amanah penyebaran risalah ini dan meninggalkan umatnya dengan sebuah alasan bahwa umatnya sudah tidak bisa dirubah lagi. Allah menghukumnya dalam perut ikan hingga Nabi yunus bertaubat kepadaNYa.

Sahabat, Andai terlintas dalam benak kita untuk berhenti bergerak memberi manfaat dalam hidup ini, siaplah untuk mengahadapi kegelapan hidup seperti yunus a.s ketika berada dalam perut ikan di dalam samudera. Berhenti bukanlah sebuah solusi. Berhenti berarti mati. Bergeraklah dan terus bergerak, andai harus mundur itu tidak berarti berhenti berjuang, tapi carilah celah, ciptakan peluang dan rubahlah keadaan menuju kemenangan. Allah suka dengan para pejuang dan amat benci dengan para pecundang.Ingatlah hidup tidak pernah berhenti untuk berkompromi dengan kita. Kitalah yang harus menaklukan kehidupan ini dibawah izin Allah. Ingat berhenti berarti mati dan dunia akan tetap berjalan seperti biasa .

SEMANGAT…….ALLAHU AKBAR

Words

Agustus 20, 2007

Terkadang ucap tidak terlalu diperlukan
Perlu perenungan untuk sebuah ucap
Kebijaksanaan harus tercermin dari setiap kata
Karena sebuah kata bisa menghancurkan sejuta mimpi

Kata-kata ini tiba-tiba melintas di ruang pemikiranku, saat hening menyelimuti jiwa. Benar sekali ungkapan” mulutmu harimaumu” karena memang banyak kejadian yang terduga dari sebuah lisan yang tidak terkendalikan.

Jika melihat ini semua, rasanya sangat tepat apa yang dicontohkan oleh pribadi agung Muhammad SAW. Beliau kita tahu adalah orang yang berbicara sangat sedikit tapi penuh makna hingga sekarang pun masih terdokumentasi dengan baik melalui buku-buku hadist yang begitu indah.

Perenungan inipun semakin menguat, ketika kejadian demi kejadian berlangsung dalam hidupku dimana kalau ditarik garis merahnya, maka pengendalian lisan adalah sebuah kunci sukses atau tidaknya seseorang.

Saatnya merenung sejenak sebelum kita berbicara. Satu detik perenungan akan merubah segalanya.

Syukurku

Agustus 17, 2007

Alhamdulillah …ternyata Allah masih mempertemukan saya dengan orang-orang yang mengerti saya disaat orang mungkin tidak menemukannya.
Alhamdulillah…ternyata sampai saat ini saya masih sehat wal afiat dan tidak memiliki penyakit yang serius disaat orang lain harus terbaring di rumah sakit dan begitu menderita dengan sakitnya
Alhamdulillah…saya memiliki istri yang mencintai saya.
Alhamdulillah … saya memilki dua anak yang lucu disaat orang lain bertahun-tahun menginginkannya dan belum memilikinya.
Alhamdulillah…ada yang masih mau mendengar saya berbicara dan mendapat ilmu lewat lisan saya, tatkala banyak orang yang tidak bisa berbicara.
Alahamdulillah…masih ada yang membaca tulisan saya ini, tatkala orang lain tidak pernah bisa menuliskan sesuatu.
Alhamdulillah….saya masih bisa hidup malam ini, disaat banyak orang yang mati malam ini di seluruh dunia.
Alhamdulillah…alhamdulillah…syukurku atas semua ini ya Allah…….