Akhir-akhir ini media di hebohkan dengan dengan diculiknya seorang anak pengusaha yang bernama Raisya. Nyaris semua koran menjadikan berita ini sebagai headline, tak ketinggalan Radio dan TV pun membahasnya dalam diskusi-diskusi yang panjang. Kejadian inipun telah membuat para petinggi Republik ini turun tangan mengomentari dan berbicara. Presiden tampil di Infotaiment berkata banyak tentang hal ini,kehebohan yang luar biasa.
Ditengah kehebohan cerita ini yang akhirnya mencapai klimaks hari ini dengan dikembalikannya raisya oleh para penculiknya kepada keluarganya, saya termenung melihat berita yang lainnya yang diberitakan dilayar TV tepat setelah berita tentang raisya. Ada berita seorang anak di Sumatera Utara yang di siksa oleh orang tua angkatnya dengan cara dimasukkan kedalam sebuah kotak kecil.Sungguh bocah 11 tahun itu sangat menderita. Tak terasa airmata ini menetes ketika kamera menzoom dua kaki yang bak tulang saja. Belum habis kesedihan ini, istri saya mengingatkan juga tentang sebuah kisah lagi, dimana ada seorang anak yang juga disiksa oleh keluarganya dengan bertahun-tahun disekap di Toilet keluarganya sendiri…duhhh…teriris hati mendengarnya dan ditengah keprihatinan itu saya lantas bertanya “ KALAU TENTANG KASUS DUA ANAK TADI PRESIDEN NGOMONG NGGAK SIH ? , MENTRI PEDULI NGAK SIH ? “ Ada rasa marah dalam jiwa ketika melontarkan pertanyaan itu.
Bukannya tidak peduli pada RAISYA karena sebagai seorang ayah dari dua orang anak, saya sangat faham arti anak saya untuk saya. Tapi saya hanya mempertanyakan perhatian yang aneh dari negeri ini. Raisya YANG ANAK PENGUSAHA BESAR telah menyita perhatian semua orang. Dan DUA ORANG ANAK MALANG YANG ENTAH NAMANYAPUN SAYA TIDAK HAFAL telah luput dari perhatian kita. Layar TV hanya menayangkan tetangganya yang penuh gundah berkata-kata penuh kemarahan akan kekejaman yang dialami anak itu dengan sebuah keterangan kecil dibawahnya “ TETANGGA KORBAN “. Tak ada sorotan kamera yang berlebih, hanya satu Televisi saja yang menayangkannya itupun tidak jadi headline, hanya sebuah berita disebuah tayangan morning show sebuah TV saja.Ya itulah nasib seorang anak negeri yang entah siapa namanya.
Saatnya kita berfikir ulang tentang kepedulian kita, benarkah kita SUDAH PEDULI ? atau justeru kita hanyalah PENIKMAT SENSASI ?


saya dan beberapa orang mungkin sebagian besar orang setuju dg pendapat akang. Banyak anak yg “dijajah” Haknya, negara biarkan begitu saja. Tak jarang bahkan kasusnya tak terungkap.
Namun, saat kejadian serupa–yg mungkin ga lebih parah dari yg dialami oleh “anak-anak miskin”, menjadi sorotan…
Lucu memang, bukan menafikan kasih sayang orang tua, tapi banyak terberitakan di TV mengenai hal itu, rata2 yg diberitakan dan dapet perlakuan dr aparat ya mereka2 yg memang punya “tempat”
Terlepas dari itu semua, keadilan pasti masih ada, karena negara ini masih berdiri.
Iya bener sa. Kita masih punya harapan. Semoga nanti generasi muda akan segera mengambil alih estafet kepemimpinan negeri ini dan tidak melakukan hal yang sama dengan generasi sebelumnya.
Ingat rasul kita selalu berfihak kepada orang miskin dan inilah sebuah kekuatan perubahan yang terus menggelora sampai kapanpun.
Ahhh..saya rindu RAsulku Muhammad SAW dan abu Dzar al Ghifari sang pembela dan pembebas kaum miskin dari kezaliman.
Benar, Mas…. benar sekali…
Saya juga punya adik perempuan yang masih SD. Tentu saya pun akan ngamuk2 jika dia diculik. Tapi YANG TIDAK WAJAR adalah terlalu dibesarkannya permasalahan ini di atas PERMASALAHAN RIL bangsa ini…
iya betul sekali, saya betul-betul masih sakit hati sampai sekarang dengan keberfihakkan yang aneh ini. Semoga bangsa kita ini lekas bangun dari tidur yang keterlaluan ini.
amin. Ada salah satu hal yang sudah mulai “kabur” sepertinya dari mental bangsa kita,K E P E D U L I A N.Tapi, saya bersyukur karena masih ada orang-orang yang peduli pada si fakir ini…
saat…
Betapa “wakil-wakil” rakyat kita sebagian besar memikirkan dirinya, bukan yg diwakilinya.
Betapa hanya orang yg beruang saja yg diberi ruang.
Betapa hanya orang punya saja yg disayang
Betapa menyedihkannya negeri kita.