Saung Ranggon
September 25, 2007
Saung ranggon ini adalah sebuah sebutan untuk sebuah bangunan sederhana berupa gubuk diatas pohon. Saya sendiri pernah membangun saung ranggon ini suatu saat di sebuah tempat di Sukabumi pada saat kecil.Saung Ranggon saya adalah sebuah tempat yang sangat nyaman, dibangun diatas pohon pepaya dan pohon sawo, menghadap ke hamparan sawah yang begitu luas terbentang.
Satu saat di saung ranggon yang begitu indah itu saya pernah main ole-olean , semacam terompet yang dibuat dari batang padi yang baru saja dipanen. Saya dan teman- teman begitu gembira bermain ole-olean di atas ranggon dan kemudian di akhiri dengan “ritual” melompat ke tumpukan jerami di bawah ranggon kami , lantas berlari menuju sungapan ( sungai Besar) di dekat sawah untuk berlomba menyelam dan mengumpulkan batu-batu bagus.Itulah sebuah kenangan tentang saung ranggon masa kecil saya.
Saat ini ketika kedewasaan menjadi milik diri, saya sedang berusaha juga untuk membangun saung ranggon. Bukan saung ranggon seperti masa dulu tapi sebuah saung ranggon pemikiran. Saung ranggon yang sangat diperlukan pada saat ini ditengah kemunafikan dan hiruk pikuk gombalisasi yang sangat sering bisa membuat perut kita sakit.
Saung ranggon pemikiran ini adalah sebuah bangunan pemikiran yang dibangun atas sebuah kesederhanaan .Seperti ranggon yang terbuat dari jerami maka ranggon pemikiran ini pun berguru pada filosofi padi yang sangat sederhana. Padi yang hanya terdiri dari batang yang tidak tinggi, seadanya saja. Padi juga memiliki daun yang juga sederhana, lurus dan tidak bercabang. Dan padi, memiliki akar serabut yang begitu banyak hingga kokoh berpijak di tanah yang basah yang tidak mampu dilakukan oleh pohon-pohon besar yang lebih rumit. Itulah sebuah kekuatan dari kesederhanaan padi, satu elemen penting pembangun saung ranggon.
Selain elemen pembangun dari saung ranggon pemikiran, hal lain yang juga harus diperhatikan adalah saung ranggon ini haruslah dibangun di sebuah ketinggian. Ada sebuah istilah yang tepat untuk hal ini yaitu “ helicopter view “. Seseorang yang membangun ranggon pemikiran haruslah orang yang memiliki kebijaksanaan yang mampu melihat suatu masalah dari ketinggian karena dari ketinggianlah kita bisa melihat dari berbagai sudut. Di ketinggian pula kita bisa melihat keindahan dalam cakrawala pandang yang begitu luas bukan sudut tembok yang muram nan kaku yang terkadang bau apek. Dan yang paling penting, semakin kita meninggikan pemikiran kita, semakin kita dekat kepada Allah SWT yang bersemayam di atas arsy.
Intinya saung ranggon pemikiran ini dibangun atas sebuah kesederhanaan yang tanpa prasangka buruk , tanpa kosmetik atau topeng karena cukup berhiaskan kebeningan wajah sang bocah kecil yang tanpa beban yang sedang bermain dan berpetualang di semesta raya ini tapi tetap memiliki kebijaksanaan yang begitu indah yang terus bergerak menuju singgasana Allah SWT yang agung dan indah.
Selamat datang di saung ranggon
Selamat merenung, berfikir dan memaknai hidup dengan sederhana …..
Cinta
September 24, 2007
Entah apa yang terasa
Ketika jiwa ini bergetar dan berkata..cinta…
Bukan cinta seperti dulu yang begitu fana
Tapi cinta yang begitu indah
Menyapu semesta rasa
Cinta yang membuat gemetar hati ini
Saat sadari betapa banyak pinta yang terucap
Tanpa bisa memberi banyak
Cinta yang terasa aneh
Tapi begitu Indah
Cinta yang hanya terekspresikan lewat untaian kalimat yang amat indah
Allah…Allah..Allah….laa ilaha ilallah….
Duhai yang maha pencinta
Biarkanlah cinta ini tetap ada
Kuasai hati ini
Jadikan aku hambaMu
Hamba cintaMu
Yang hanya mencintaiMu
Dan jadikan cinta para pecintaMu ada besertaku
Hingga Kami bisa bersama menujuMU
Dengan segenap cinta kami yang tak sempurna
Dedicated 4 : ikhwah fillah..uhibukum fillah…!!!!!!!!
5 - 1 = bahagia
September 19, 2007
Sore itu rumah terasa semarak karena istri tercinta sedang sibuk membuat gorengan untuk ta’jil sementara dua anakku yang lucu- lucu, ikut sibuk dengan aktivitas yang lainnya yaitu ngerepotin uminya. Hari ini kami memang sengaja membuat makanan sedikit berlebih dengan niat dibagi-bagi kepada tetangga, maklum kami tinggal di wilayah permukiman yang padat dimana kami termasuk orang yang baru pindah ke wilayah ini “ sekalian silaturahim “ ujar istri saya.
Gorengan sederhana dari istrikupun akhirnya beredar luas di tetangga sekitar dan keajaibanpun dimulai, satu demi satu tempat yang tadi dipakai untuk mengedarkan gorengan ke tetangga kembali dengan isi yang berbeda-beda, ada Es buah, ada kolak pisang dan es campur lalu sayapun berkata “ inilah kekuatan berbagi, keluar 1 dapet 3 dan mungkin bahkan lebih “ dan istri sayapun tersenyum sambil mengiyakan.
Rumus kehidupan memang tidak sama dengan rumus matematika. Dalam rumus kehidupan 5-1 bisa sama dengan 8 atau 10 karena saat kita berbagi, sesungguhnya kita sedang melipat gandakan apa yang kita miliki.Banyak orang yang sudah membuktikan rumus ini dan mereka semakin “kecanduan” untuk berbagi.Seorang sahabat saya yang merupakan seorang pengusaha dibidang pakaian jadi contohnya, setiap bulan beliau punya proyek berbagi kepada karyawan dan para tetangganya. Seluruh karyawannya diliburkan untuk mengikuti pengajian khusus yang ditutup dengan makan malam bersama dan bagi-bagi sembako buat keluarga karyawan dan masyarakt sekitar. Tidak cukup sampai disana, sahabat saya ini membiayai ratusan anak kurang mampu di lingkungannya, bahkan tidak sampai disana, beliau malah membangun sekolah gratis untuk mereka meskipun baru tingkat TK dan akibat dari itu semua, subhanallah luar biasa kekayaannya malah semakin berlimpah ruah. Pernah saya dan rekan disana menghitung pengeluaran beliau untuk acara-acara amalnya ini dan angkapun menembus sampai 400 juta rupiah lebih, itu yang bisa kami hitung karena saya yakin masih banyak kebaikan lain yang beliau sembunyikan.
“ Uang itu seperti jenggot, semakin dicukur , semakin lebat tumbuhnya “ ini adalah sebuah ungkapan dari seorang guru saya. Mas amri, guru saya itu dengan sangat bernas membeberkan tentang rezeki dan konsep berbagi. Baginya uang itu adalah seperti jenggot yang ada di dagu kita, tatkala kita cukur untuk kebaikan, maka akan bertambahlah dia.Lantas bagaimana dengan saya dan atau mungkin anda juga yang sampai saat ini belum punya cukup banyak uang untuk berbagi ?. Untuk hal yang satu ini, guru saya yang lain ustadz Budi Prayitno seringkali mengingatkan saya, “ anda punya mata, maka berbagilah mata anda dengan orang buta. Jadilah pembaca buku untuk mereka. Anda punya cinta, maka berbagilah cinta dengan orang tua penghuni panti Jompo atau anak-anak kecil yatim piatu di panti asuhan, beri mereka senyum, temani mereka ngobrol disore hari sambil minum secangkir teh dan banyak lagi yang bisa kita lakukan”.
Saya akui terkadang saya terlalu pelit untuk berbagi. Saya terlalu sering memakai rumus matematika konvensional yang tidak bisa diterapkan dalam pencarian kebahagian, karena rumus kebahagian adalah 5 – 1 = bahagia.
Ada apa dengan hiburan Islami
September 17, 2007
Ditengah syahdunya suasana sepertiga malam tadi dan ditengah kehangatan hidangan sahur made in istriku tercinta yang terasa begitu nikmat, anak pertamaku berkata “ bi, nyalai pipi ( TV ) yah…teteh mau nonton pipi ( TV)..” Boleh, tapi nonton MQ TV yah “ jawabku. Klik…dan layar TV pun memperlihatkan sebuah tontonan yang berbuah diskusi panjang antara aku dan istriku. Layar MQ TV sedang menayangkan “video klip islami “ yang sungguh sangat aneh dimata kami. Yang tertangkap pertama kali adalah Marshanda, artis yang sedang naik daun itu dengan klip lagunya PENGAKUAN yang menghadirkan dirinya sebagai sang penyanyi tanpa jilbab “ halah….nyanyi islami kok ngak pake jilbab,” seruku. Istriku tersenyum mendengar komentar itu dan semakin tersenyum lebar ketika lagu dilayar TV berganti dengan lagunya Ike Nurjanah dengan lagunya TUHAN dan yang ini lebih parah, dia tampil dengan busana yang terbuka di bagian dada ( pake kebaya yang belahannya cukup dalam ). “ huh …nambah ngaco “ seruku. Dan puncaknya adalah saat sang ratu ngebor INUL DARATISTA tampil di layar TV dengan lagu ASHOLATU yang salah satu liriknya mengutip ungkapan BILAL tatkala membangunkan sang Rasul yaitu ASHOLATU KHAIRUMMINANNAUM, maka lisan inipun spontan berkata “ AL NGEBORU LA KHAIRU MINNANAUM “. Duh ancurrrrrr….seru batinku.
Fenomena seperti ini memang telah menjadi hal yang sangat menarik setiap ramadhan di Indonesia. Para artis berubah menjadi sangat religius. TV berlomba dengan berbagai sinetron ISLAM-ISLAMAN. Saya berani berkata Islam-islaman karena memang label islami ini sepertinya sangat berlawanan dengan isi dari sinetronnya.Satu saja contohnya, ada sebuah sinetron yang katanya Islami dengan sang pemain yang berjilbab dan rajin sholat tapi pacaran.Bukankah ini akan mendorong para penonton yang tidak memilki filter yang baik akan menangkap bahwa Islam membolehkan pacaran ? Lantas bagaimana dengan nasib ayat “ janganlah Kau dekati Zina !”. Masih banyak lagi contohnya, semisal sinetron yang berbau mistik dan musyrik yang dibungkus dengan lebel Islam dll.
Saya jadi ingat perbincangan dengan Pak Dedy Mizwar beberapa lalu dalam sebuah perbincangan via telpon. Pak Dedy Mizwar saat itu berkata :” mas..anda pernah perhatikan ngak, siapa produser-produser sinetron-sinetron islami dan lagu-lagu islami pas ramadhan sekarang ?, maaf , lanjutnya “ mereka bukan muslim, jadi mana ngerti tentang dakwah islam ?”.Batin saya termenung saat itu dan membenarkan ucapan beliau.Saya juga jadi ingat perbincangan dengan cak Nun pada suatu waktu di Jakarta, kami saat itu berdiskusi tentang gerakan kebudayaan menuju indonesia yang bermartabat dimana beliau berkata: “ mas..anda sadar tidak, kita tuh tidak punya visi kebudayaan.Kita adalah bangsa besar yang jadi konsumen besar kebudayaan antah berantah. Apalagi kalau anda ingin mengajak saya berbincang tentang budaya Islam..jauhhhh mas…jauuuuhhhh..” dan sayapun lagi-lagi tidak mampu berkata apa-apa.
Kebudayaan…kata ini terus terngiang diruang fikir saya.Sebagai muslim yang ada di sebuah negara yang bernama Indonesia memnag akan sangat menarik ketika menelaah tentang hal ini. Bagaimana tidak, negeri ini telah menjadi negeri bagi tiga agama yaitu Hindu, Budha dan Islam yang otomatis budaya dari tiga agama ini sangat kental mewarnai kehidupan masyarakat indonesia, belum lagi pengaruh penjajah barat dengan kristenisasi dan westernisasinya yang otomatis telah membuat pencampuran dimana-mana. Hasilnya , seorang muslim masih percaya tahayul yang berasal dari Hindu dan Budha dan berpenampilan bak artis-artis hollywood. Ini jelas adalah sebuah PR untuk umat Islam. Kita tidak bisa lagi diam melihat ini semua. Untuk itu perlu sebuah gerakan yang massif untuk mengembalikan umat ini pada aqidah yang benar.Jadikan ini sebagai sebuah agenda pertama dan utama. Jadikan Akhlak sebagai agenda berikutnya dan fiqh berikutnya lagi.Selain itu sudah saatnya pula putra dan putri muslim terbaik kita berdakwah di jalur budaya. Kita hadirkan budaya islam yang sejati, budaya yang berasal dari al Quran dan As Sunah serta para salafushalih. Hadirkan dengan bahasa dan kemasan yang membumi dan menarik hingga mata ini tidak lagi sakit karena disuguhi hiburan yang islam-islaman. Amin…
Buat hamba yang sering jauh dari Allah
September 16, 2007
Tausyiah ustadz saiful islam mubarak benar-benar membuat saya termenung lama sekali. Dingin angin di malam ramadhan itu terasa begitu mencekam dan seolah terhenti saya rasakan tatkala Ustadz berkata “ kata yaa… dalam bahasa arab ini digunakan untuk memanggil orang yang jaraknya jauh dengan kita. Dan sekarang mari kita renungi , banyak ayat Al Quran yang memakai kata “ yaa..” ini untuk memanggil kita. Satu contohnya , dalam perintah Shaumpun Allah SWT menggunakan kata “Yaa..ayuhalladzina amanu “, di sini Allah memakai kata “yaa…..Inilah panggilan untuk kita yang sering jauh dari-Nya”.
Terasa hati ini begitu gemetar mendengar kata-kata ini. Saya akui memang seringkali saya jauh dari Allah SWT. Saya yang tak henti meminta kebaikan dari Allah, sementara begitu sedikit amal baik yang saya lakukan yang diniatkan untuk Allah. Berbagai kebaikan yang saya lakukan seringkali bernuansakan pamrih yang amat banyak terhadap manusia.Penghargaan,ucapan terima kasih dan imbalan materi seringkali menjadi kepuasan diujung amal yang saya lakukan.
Duhai…saya merasa amat berdosa malam itu.Terlalu lama saya membiarkan Allah memanggil saya dari kejauhan padahal dia dekat, lebih dekat dari urat nadi saya. Dia selalu mengabulkan doa saya yang jarang khusyu.Dia selalu memaklumi kekhilafan saya yang begitu sering dan bahkan Dia dengan sabar selalu memanggil saya dengan panggilan yang lembut “ irji’I mirrabbiki – kembalillah pada Rab Mu “.
Duhai rab yang maha dekat, izinkan aku untuk selalu merasa dekat denganMU. Aku lelah dengan segala resah maka peluklah aku dengan damaiMu. Izinkan aku berkata dengan segala kelemahanku…hamba mencintaiMu ya Allah dan izinkan cinta ini tetap tumbuh subur selamanya, sampai saat aku menghadapMu di hari pembuktian cintaku dan cintaMU.