Berhati-hatilah dengan kata-kata
Oktober 24, 2007
Al kisah Seorang ibu dan seorang anaknya yang masih kecil sedang berbincang dengan tetangganya. Rame sekali segala obrolan yang mereka bincangkan, dari mulai masalah PR anaknya yang dirasakan terlalu berat sampai para suami mereka yang naik pangkat bahkan terselip juga berbagai obrolan seru memperbincangkan tentang gosip terkini yang aktual dan perlu mereka bahas secara intensif. Dan disela-sela perbincangan mereka itu terdengarlah sang ibu berkata “ aduh..beruntungya aku ini, kebetulan aku punya suami yang baik, anak yang cerdas dan rizki juga lumayan lah ada. Meskipun kadang-kadang kurang , tapi yah ..hebat yah ..ada saja jalannya. Nggak nyangka aja tiba-tiba kebetulan suami dapet proyek gede pas banget ketika anak saya yang paling kecil ini harus sekolah …hebat yah ..”
Sahabat, bagi sebagian besar dari kita mungkin tidak ada yang aneh dari perbincangan sang ibu yang saya kutip, tapi kalau anda jeli ada banyak masalah yang sangat krusial dan mendasar dibalik kata-kata tadi. Ada dua kata-kata yang bermasalah disana yang pertama adalah kata kebetulan yang berulang kali dikatakan oleh sang ibu . Dan yang kedua kata Rizki..lumayan lah ada. Mari sekarang kita bedah lebih lanjut tentang dua kata ini.
Kebetulan
Kata ini memang sangat sering kita ucapkan secara tidak sadar . Kita sering memaknai berbagai kejadian yang terjadi dalam hidup kita sebagai sesuatu yang kebetulan. Padahal tatakala kita berfikir seperti itu, sesungguhnya dalam waktu yang sama kita telah menafikan campur tangan ALLAH SWT yang telah mengatur segala kejadian. Allah SWT berfirman : (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka “. ( Ali ‘Imran 191). Diayat ini Allah menegaskan dengan gaya bahasanya yang indah bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia. Allah tidak mengenal kata kebetulan.
Seorang sahabat pernah mengatakan kepada saya kalau betul ada sebuah kebetulan di dunia ini, maka angin puting beliung yang lewat Bandung pasti bisa menghasilkan banyak pesawat canggih secara kebetulan. Mungkinkah ini terjadi ? kalau ini mungkin terjadi tentu kita tidak memerlukan lagi ITB, cukup mengandalkan kebetulan saja. Tidak mungkin sebuah pesawat canggih bisa terbentuk dari sebuah kebetulan. Selalu ada arsitek dan perancangan yang rumit menyertai terbentuknya benda yang satu itu.
Maka setelah kita fahami hal ini, kitapun akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa tidak ada pula yang kebetulan dalam hidup kita. Ada campur tangan dari yang maha mengatur kita yaitu ALLAH SWT. Maka tatkala kita mengatakan kebetulan, sesungguhnya kita sudah menolak Allah SWT dan ini berarti sebuah penyimpangan akidah.
dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal..( Al Jaatsiyah 45). Ingatlah terus ayat ini dan bacalah dengan akal kita, maka kita akan menemukan sebuah fakta yang tidak bisa dibantah oleh siapapun bahwa tidak mungkin pergantian siang dan malam dan berbagai kejadian di semesta ini adalah sebuah kebetulan. Semuanya by design by the great creator yaitu Allah SWT.
Lumayan
Apa yang ada di benak anda ketika anda mendengar kata : sangat bagus..bagus..cukup bagus…lumayan..dan buruk ?. Bisa dipastikan yang ada dibenak anda adalah sebuah hirarki nilai atau hirarki kepuasan.Dimanakah posisi lumayan ?. Nyaris satu tingkat saja diatas predikat buruk. Maka tatkala kita mengatakan lumayan untuk rizki yang Allah titipkan kepada kita, sesungguhnya secara tidak langsung kita telah berkata “ ya Allah ..rizki ini tidak terlalu buruk kok …yah ..meskipun nggak cukup baik..”. dan pada saat itulah sesungguhnya kita sudah terjebak menjadi hamba yang tidak bersyukur atas kasih sayang Allah SWT. Maka untuk itu cermatilah firman Allah ini : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS.Ibrahim :7). Berat ? iya. Allah sangat serius mengancam orang yang tidak bersyukur dengan azab, tidak cukup hanya azab biasa tapi azab yang pedih. Dan kita dengan tanpa beban mengatakan lumayan atas nikmat Allah . Masya Allah.
Setelah kita mencermati dan membedah dua kata tadi, sudah selayaknya kita berhati-hati dengan kata-kata yang kita gunakan apalagi didepan anak-anak kita tercinta.Jangan sampai secara tidak sadar kita mengajarkan kemusyrikan kepada anak-anak kita dan mengajarnya untuk menjadi orang yang tidak bersyukur kepada Allah SWT, naudzubillahi min dzalik… Wallahu ‘ alam
Kakaren
Oktober 23, 2007
sudah lebih dari 11 hari bulan syawal ada beserta kita. Biasanya di rumah hanya tersisa kakaren dalam jumlah yang sedikit atau mungkin bahkan sudah tidak ada makanan yang bernuansa khas lebaran. Bukan maksud memperbincangkan tentang makanan tapi ada kakaren lain yang akan dibicarakan di sini. Kakaren itu bernama kakaren ibadah ramadhan.
Seperti namanya kakaren diambil dari kata kakarian yang berarti sisa-sisa maka kakaren ibadahpun itu berarti sisa-sisa ibadah dimana kalau kita jujur, hal ini sedang terjadi pada kebanyakan kita pasca ramadhan.Coba kita lihat, berapa banyak semangat yang tersisa untuk mengkhtamkan Al Quran di bulan ini. Sudah sampai Juz berapa ?. Saya sendiri harus mengakui tertinggal beberapa JUZ sampai hari ini dan sedang terus dikejar beberapa hari terakhir ini.Terus bagaimana juga dengan sholat malam kita ? masih semangat ?.
Inilah kakaren ramadhan kita.Kakaren yang harus segera dihangatkan dengan sebuah memori indah tentang ramadhan sebelum menjadi basi. Kita hangatkan dengan shaum syawal, kita hangatkan dengan tahajud dan tadarus juga dengan sholat dhuha dan amalan sunnat lainnya.
Selamat menjalani ibadah di bulan syawal..bulan yang tak kalah hebat dengan Ramadhan. Bulan milik Allah SWt yang dititipkan untuk kita .
Fitri
Oktober 19, 2007
Fitri…Bukan sekedar nama yang indah buat seorang akhwat tapi fitri juga adalah satu hal yang didambakan setiap usai ramadhan. Fitri yang sering diartikan dengan kesucian diri. Sesuatu yang tentu sangat diharapkan oleh hamba yang sering bergelimang dosa seperti saya, anda dan kebanyakan dari kita. Lalu kesucian seperti apa yang kita dambakan? Kesucian seperti bayikah yang kita cari ?
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ( Q.S Arrum:30 ). Dari sinilah selayaknya kita mulai mendifinisikan fitri yang kita cari. Fitri yang dalam ayat ini disebut dengan FITRAH. Fitrah yang ternyata berarti agama Allah. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
Itulah Fitri yang sejati yang selama ini kita rindukan siang dan malam. Fitri yang sering hanya kita baca dalam Quran dan kitab hadist tapi kita enggan memeluknya dengan erat. Dengan begitu tega , kita biarkan fitri merindukan pelukan kita .
Saatnya kita maknai Ied yang baru saja berlalu dengan Fitri yang sejati. Saatnya kita kembali dengan penuh untuk sehidup semati bersama Fitri. Sepanjang hari, sepanjang masa sampai saat kita mati nanti. Katakanlah ” sesungguhnya sholatku, ibadahku , hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah semata. Saksikanlah duhai Allah … akulah seorang muslim sejak dulu, kini dan nanti. Akulah muslim dalam pemikiranku, dalam usahaku, dalam hidupku dan dalam matiku.. akulah sang pencinta fitri….”
Wakaf Ilmu untuk pemberantasan kemiskinan
Oktober 17, 2007
Tanggal 17 oktober 2007, lagi-lagi hari ini diperingati sebagai hari penghapusan kemiskinan sedunia. Berbagai jargon kembali bergaung dengan keras, membahana di berbagai pelosok dunia, termasuk di bumi pertiwi ini.
Sangatlah menarik memang untuk berbicara penghapusan kemiskinan di negeri kaya yang dihuni banyak orang miskin seperti di Indonesia ini. Kita tahu sudah banyak program yang dilakukan oleh pemerintah, corporate atau LSM untuk memerangi kemiskinan dari mulai BLT sampai CSR tapi ternyata masyarakat miskin kita masih terus dan terus bertambah.Meskipun dalam laporan BPS yang penuh kontroversi di katakan bahwa kemiskinan di indonesia sudah berkurang tapi tetap realita berkata lain, kemiskinan tetap menjadi sebuah hantu yang siap menghancurkan bangsa ini.
Bukan saatnya memang kita memaki kemiskinan ini dan juga bukan saatnya kita bermain dengan jargon yang sudah sangat usang dan ketinggaln zaman. Saatnya kita bangkit dan berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan ini lewat satu gerakan yaitu gerakan wakaf ilmu. Kenapa harus wakaf ilmu ?. Jawabannya adalah karena kebodohanlah penyebab kemiskinan. Kita bisa mulai dengan hal yang paling kecil untuk memulai gerakan kita ini, misal : Anda memilki keahlian menjahit, maka anda bisa mendidik orang lain untuk menjadi penjahit secara gratis atau anda adalah orang yang menguasai bahasa asing semisal inggris, arab atau Jepang anda bisa mengajarkannya kepada orang lain hingga orang lain punya modal yang cukup menghadapi kehidupan era sekarang yang sungguh sangat tidak ramah untuk orang yang tidak memilki keahlian. Mudah bukan ? hanya perlu sebuah kemauan dan kalau anda ingin melakukannya bersama-sama silahkan bergabung di 9 SR learning club. Info lengkap silahkan klik di halaman learning center.
Saatnya kita bangkit. Lawan kemiskinan dengan Ilmu……
Nge prof dong….
Oktober 17, 2007
” kalo nggak profesional ya sholeh lah …kalo nggak sholeh , ya profesional lah ” ucap seorang sahabat pada satu waktu perbincangan di sela-sela waktu kami bekerja. Ucapan yang terdengar biasa saja tapi ketika direnungkan, ternyata sungguh sangat dalam maknanya.
Mencermati apa yang dikatakan oleh teman saya itu, sekilas terbersit dalam benak sebuah peryataan ” Kayaknya dua hal tadi, sholeh dan profesional adalah sesuatu yang nggak bisa bersatu ” peryataan yang jelas sangat memprihatinkan tentu..
Saya ingin mengajak anda berfikir ulang tentang term sholeh. sebuah term yang tadi sempat kita singgung diawal tulisan ini. Secara Umum, gelar sholeh ini seringkali di berikan kepada seseorang yang rajin ibadah mahdoh saja atau paling tidak ditambah dengan senang menyantuni orang miskin. ya ..hanya seperti itulah syarat untuk menjadi orang sholeh perkara kerjaannya memble dan males-malesan, itu tidak termasuk point yang dihitung dan dihubungkan dengan kesholehan seseorang. Padahal kalau kita termasuk orang yang rajin membaca Al quran tentu kita akan sampai pada satu ayat ini, yaitu :QS Al mulk ayat 1 dan 2 :
” maha suci Allah yang ditangan-Nyalah segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup. Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia maha perkasa lagi maha pengampun.”
Nah kalau kita merujuk kepada ayat ini, maka jelas sudah kekeliruan kita tentang definisi sholeh selama ini. Kita tentu tahu orang sholeh adalah orang yang memenuhi apa yang Allah perintahkan, dan di ayat ini jelas Allah meminta kita mempersembahkan amal terbaik bukan amal asal-asalan. Amal yang optimal yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang profesional. Maka kalau ada yang orang yang dianggap sholeh tapi tidak profesional dalam bekerja maka sesungguhnya dia belum sholeh. Begitu pula sebaliknya, tatkala kita mengaku profesional tapi belum “sholeh ” maka sesungguhnya kita tidak termasuk dalam jajaran kaum profesional.
Allah SWT berfirman : ” Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia ….( Q.S Ali Imran 110 ).
Dan sebuah pertanyaanpun terlontar, bisakah kita jadi umat yang terbaik kalau kita tidak profesional ?