satu siang di sudut mesjid darruttauhid selepas sholat dzuhur
” mas,pernah nggak kita merenung tentang berbagai kejadian dalam hidup kita ” tanya seorang sahabat yang juga guru saya . ” tentang apa mas? ” tanyaku. “itu tentang ujian, pernah nggak kita merenung jangan-jangan kita kepede-an sedang diuji padahal sebenarnya kita sedang di azab. Padahal kita tahu obat dari dua situasi itu beda, obat pertama sabar dan obat kedua tobat. “” iya yah mas”, jawabku sambil menggaruk kepala. “
Perbincangan dengan seorang sahabat itu berbekas perenungan yang begitu dalam hari itu dan akhirnya membuat malam itikaf tadipun berubah menjadi malam perenungan yang begitu menguras kesadaran. Saya jadi ingat berbagai ayat Al Quran yang baru saja dikhatamkan malam ini banyak bercerita tentang berbagai musibah yang disebabkan oleh ulah kita sendiri. Bukan hanya musibah bahkan azabpun datang karena kita undang dengan kedzaliman yang kita lakukan sendiri.
Dini hari tadi disela-sela kesibukkan mempersiapkan makan sahur untuk sendiri, di layar Televisi Prof Quraish shihab berkata ” sesungguhnya Allah akan membalas apa yang dilakukan oleh tangan kita”. Perkataan beliau inipun semakin membuat kumplit perenungan seharian ini. Perenungan yang membuat diri semakin takut bahwa yang sedang terjadi dalam hidup saya bukan ujian tapi adzab.
Kembali ke inti perenungan tentang ujian dan azab, saya jadi ingat satu ayat yang pernah baca yaitu : “Andai kata penduduk satu negeri itu benar-benar beriman dan bertakwa, maka kami akan bukakan kepada mereka keberkahan kami yang datang dari langit maupun yang tumbuh dari bumi. Akan tetapi jika mereka mendustakan ayat kami, maka kami akan azab mereka akibat perbuatan mereka sendiri “ (Surah al-A’raf, ayat 96). Subhanallah, ini adalah sebuah janji Allah SWT yang benar-benar harus kita renungkan dengan memakai logika terbalik menjadi : andai kata penduduk satu negeri ( tempat / organisasi / institusi ) tidak beriman dan tidak bertakwa, maka akan kami tutup kepada mereka keberkahan yang datang dari langit maupun yang tumbuh dari Bumi. akan tetapi kalau kita kembali tidak mendustakan ayat – ayat kami, maka kami tidak akan mengazab mereka karena perbuatan mereka itu .Dengan memakai logika terbalik ini, maka perenunganpun akan semakin menarik karena ayat ini bercerita tentang sebuah kejadian dalam sebuah kumpulan ( jamaah ). Prof Quraish Shihab kembali mengingatkan bahwa ada dosa kolektif dan ini terjadi ketika dalam sebuah masyarakat terjadi penyimpangan dan kita menyetujuinya karena kita membiarkannya. Dan ingat saat kita membiarkan kedzaliman dan penyimpangan, sebenarnya kita sedang mendustakan ayat ALLAH SWT. Bukankah Allah menyuruh kita beramar ma’ruf nahyi mungkar ?. Ini baru satu hal saja padahal mungkin masih banyak ayat Allah yang lain yang masih kita dustakan secara sadar atau tidak sadar.
Setelah melakukan perenungan yang lumayan panjang dan menguras nurani dan akal sehat, akhirnya saya sampai pada sebuah pintu solusi untuk mengobati dua hal tadi. sesungguhnya ada satu jenis obat untuk menyembuhkan dua situasi tadi sekaligus yaitu SYUKUR. Syukur yang sebenar-benarnya syukur. Syukur yang berujung pada peningkatan amal baik. Syukur yang berujung pada sebuah perbaikan tiada henti. syukur yang membuat diri kita tetap waspada dalam ketawadhuan dan tetap semangat dalam sujud penghambaan yang tak berkesudahan.


Sebenarny tema ini bagus untuk dbahas. Tp sayang sekali pembahasanny kurang dalam atau kurang menyentuh hati. Disini hanya djelaskan secara umum. Thnx
# eti …
Terima kasih untuk komentarnya yah…
Untuk kurang dalam ..memang ini adalah keterbatsan ilmu saya…Mau menambahkan ? silahkan…namanya juga blog….he he he
kalau soal tersentuh atau tidak ? itu sih tergantung hati..kalau saya sih mudah sekali tersentuh, sesepele apapun kejadiannya..
btw..gracias..