Duhai Jiwa yang kering

April 18, 2008

” Salam…kenapa hati merasa kering dan dahaga ? ” Pesan ini dikirimkan oleh seorang sahabat melalui fasilitas Yahoo mesengger. Cukup lama untuk merenung hingga akhirnya tangan ini bergerak dengan sendirinya dan menuliskan kata-kata ” kalau kita dahaga berarti kurang minum teh ” ..” Minumlah dari telaga kautsar…telaga ketenangan dan dzikir. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati akan menjadi tentram “.. dan seorang sahabat di sebrang sana membalas dengan icon senyum. Sayapun melanjutkan menuliskan pesan  : ” saya jadi ingat surat al anfal, saya lupa ayatnya. Ada  ayat yang bercerita tentang hujan. Dimana salah satu fungsi dari hujan yang diturunkan Allah adalah untuk memberikan ketenangan kepada pasukan muslim yang pada saat itu sedang berperang dengan pasukan kafir yang berkoalisi dalam perang ahzab..” “iya ..trus ” sela sahabatku. ” Iya..saya fikir untuk mendapatkan ketenangan jiwa, kita butuh sesuatu dari langit. Kita harus ” minum ” sesuatu yang langsung dari langit agar kita tidak dahaga. Itulah Al Quran..” ” Kita tidak akan pernah merasa kering karena kita meminum sesuatu dari sumber mata air yang tidak pernah kering. Kita tidak akan pernah dahaga karena kita dekat dengan yang maha……” dan icon senyumpun muncul di monitor komputer saya seiring dengan kata : ” subhanallah..jazakallah khair kang …” ” waa iyaki…

Perbincangan yang singkat disela kesibukan kemarin sekarang kembali teringat di memori otak saya. Seolah menggedor kesadaran dan menampar diri yang beberapa hari terakhir ini mulai merasa kekeringan serupa yang pernah di rasakan oleh seorang ukhti sahabat saya itu. Terasa memang semakin jarang saya mereguk kedamain telaga kautsar itu. Terasa terlalu sibuk dengan berbagai aktivitas yang melelahkan….duhai….kenapa ini bisa terjadi yaa rob…

Disudut malampun akhirnya saya terpengkur.Tausyiah dari sang murobbi terasa seperti hujan yang amat menyejukan menyirami dahaga jiwa yang mulai terasa parah ini. Sampai pada saatnya  sang waktupun akhirnya membunuh rasa damai ini..duhai..kenapa engkau terlalu singkat wahai sang waktu. Padahal belum puas diri ini mereguk air dari telaga kautsar itu…

Jari inipun mengalir lagi tanpa terkendali diatas tuts keyboard ini : ” Berpuaslah wahai diri. Reguklah air ketenangan dan kedamaian dari sumber kedamian abadi..semoga dirimu tenang dalam pelukan Ilahi…”

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu…..

Dan teror itupun terjadi

April 15, 2008

Gedung DPD PK sejahtera kabupaten Bandung dilempari Bom Molotov “terhenyak saya membaca berita di dteik.com kemarin.” Pasca Pilkada” .. gumam saya dalam hati.

Budaya kekerasan memang masih saja menjadi warna dalam kehidupan bangsa ini. Masih belum lekang dari ingatan saya bagaimana aksi pembantaian mahasiswa oleh aparat saat awal reformasi. Masih teringat juga bagaimanan seorang teman dari GUnadharma yang melaporkan temannya tewas terkena peluru dan siksaan aparat saat demo di Jakarta. Masih teringat pula saat beberapa guru saya di masa lalu yang getol mengkritik pemerintah harus berurusan dengan aparat hukum. Masih teringat pula berbagai kasus kekerasan dalam masyarakat, bentrokan antar ras di kalimantan, bentrokan antar pemeluk agama di Ambon sampai penyiksaan yang terjadi di IPDN. Semuanya membuat saya berfikir keras dan bertanya : ” Kapan semua ini berakhir ?”

Siap untuk beda, Inilah sebuah kuncinya. Siap untuk melihat orang lain menang dalam sebuah pertandingan yang fair, itu adalah sebuah modal yang teramat penting.Berorientasi pada tujuan bersama tanpa melihat diri paling layak untuk menjalankan misi tersebut, adalah sebuah perekat yang tak akan lekang sepanjang masa.

Sudah saatnya kita berhenti untuk menggunakan bahasa kekerasan. Saatnya bangkit dan bergandeng tangan.Negeri ini butuh uluran tangan yang siap membangun, bukan melemparkan nista yang hanya akan menambah hina ibu pertiwi.TIDAK ADA LAWAN ABADI…yang ada adalah PARTNER untuk mengasah diri dalam ihktiar memberikan yang terbaik.

No more violence..no more bomb….we all brother….

Matahari semakin terik menyengat kepala kami ratusan aktivis yang sedang mempromosikan pasangan Cagub dan cawagub JABAR. Maklumlah ini adalah hari terakhir kampanye. Maka tak heran para aktivis yang notabene sudah berstatus karyawanpun tumpah ruah ke jalan dan memilih untuk izin dari kantornya termasuk saya tentunya.” Final fight…” ujar saya  dalam hati sambil terharu karena melihat banyak sekali ikhwah yang turun hari kemarin Semoga Allah terus menolong perjuangan ini dan mempersatukan hati kita akhi wa ukhti.

Ditengah kebahagiaan berkumpul dengan ikhwah fillah itu, ada satu kejadian yang membuat saya sedikit termenung saat ada seseorang yang menghampiri saya dan bertanya : ” Mas, ada uang bensinnya Ngak ? ” Haaa…saya pun bengong dan kemudian menjawab ” Ngak mas..ngak ada “. Dan saya pun berkata dalam hati ” sejak kapan ikhwan bagi-bagi uang bensin ? he he he….” Lalu saya pun berfikir :” oooo…mungkin mas yang tadi tuh massa konvoi abadi. Maksudnya ..dimanapun dan siapapun yang konvoi disanalah dia ada asalkan ada uang bensin ..hmmm ” Sayapun semakin bengong tatkala seorang akhi berkata : ” Jangan heran akhi, kemarin pasangan # ( sensored ) bagi-bagi uang bensin sebesar 100 ribu rupiah untuk massa kampanye nya..!! ” haaa.. ” Loh  kok antum tahu ? ” tanya saya. ” Iya…”saya dapat info dari kenalan saya “..duuh sedihnya mendengar ini semua. Masih seperti itukah calon pemimpin kita ?. Masihkah tega menyuap rakyat dan memperalatnya untuk memuaskan syahwat kekuasaan yang entah untuk apa nanti digunakan ?.

Saya pun semakin tegak diatas sepeda motor tua ini dan berkata dalam hati : ” Tidak boleh terjadi lagi kekuasaan jatuh pada para penyuap…Allahu Akbar…!!!!!”

Selamat berjuang akhi wa ukhti….