Tantangan
Mei 29, 2008
Ada seorang teman yang berkata : ” wah .. gak ada tantangan lagi nih…ya udah ah …” dan diapun menjadi orang yang teramat malas. Orang yang tidak termotivasi dan bahkan menjadi orang yang paling menyebalkan di mata saya. Lantas saya pun berinisiatif untuk memberinya sebuah tantangan untuk berkarya dan apa yang terjadi?, dia tetap tidak bisa melakukan apa-apa.
Sebuah pelajaran sedang terbentang di depan mata saya. Pelajaran bahwa banyak orang malas yang bertopeng kualitas diri. Dia bertopeng dengan kondisi. Ada saja alasan yang dikemukakan, dari mulai tidak adanya guidance dari pemimpin, alat pendukung yang tidak handal sampai alasan bahwa bukan levelnya bekerja di tingkat itu…hmmmm… alasan yang indah yang membuat perut saya sakit…. upss.
Seorang pencari tantangan sejati seharusnya adalah orang yang sangat dinamis bergerak. Dia akan senantiasa menemukan tantangan di setiap gerak kehidupannya. Sang penantang akan berusaha berbuat dan menikmati yang diperbuatnya. Sang penantang adalah leader yang bisa terus maju dalam sebuah kekacauan. Jiwanya dihiasi dengan keikhlasan yang tinggi. Hidupnya dia dedikasikan secara utuh hanya untuk Allah. Ditelinganya senantiasa terngiang firman Allah dalam Q.S Al Mulk ayat 1 dan 2 bahwa Allah menciptakan hidup dan mati ini sebagai sebuah sarana untuk berbuat yang terbaik. Maka dengan serta merta sang penantang terjun ke gelanggang dan bertarung sampai titik darah penghabisan. Tidak ada kata berhenti atau beristirahat . Dia adalah para pengikut sang imam abu hanifah yang berkata : ” tidak ada waktu untuk istirahat sampai kaki kita menginjak tanah syurga”. dialah sang penantang sejati yang menyambut dengan serta merta sabda sang nabi ” Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan dengan mengatakan: kalau orang lain berbuat baik maka aku akan berbuat baik dan kalu mereka berbuat zalim, kamipun akan berbuat zalim. Tapi teguhkanlah dirimu dengan berkata : kalau orang lain berbuat kebaikan, kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan, kami tidak akan melakukannya ( H.R at tirmidzi ).
Saatnya buktikan diri sebagai sang penantang sejati. Buanglah kemalasan yang bertopeng buruk itu. Ingatlah bahwa kiamat itu sudah dekat, merugilah kita wahai diri yang tidak berarti. Hiduplah untuk mati kita. Jangan kita mati sebelum waktunya. Hidup adalah gerak maka yang tidak bergerak berarti bangkai busuk yang tidak berguna.
Bangkit dan berjuanglah karena Allah hanya menolong orang yang layak untuk ditolong !!!!
Memaknai Kebangkitan Nasional
Mei 21, 2008
100 Tahun kebangkitan nasional akhirnya diperingati di Indonesia. Gegap gempita menjadi warna yang terbaca dan puncaknya adalah sebuah perayaan yang sangat mewah di ISTORA Senayan.
Ada sebuah keprihatinan tersendiri ketika menyaksikan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional di Senayan. Dalam benak terucap sebuah kata : ” Bangsa ini sedang krisis kok bisa-bisanya yah membuat sebuah acara yang sangat mewah seperti ini. Pasti mahal kan ?”. Benak inipun lantas melakukan sebuah kalkulasi kecil berdasarkan berbagai pengalaman mengadakan berbagai event dan keluarlah kesimpulan : ” sampai milyaran nih biayanya …”
Sebuah pertanyaan kembali muncul dibenak : ” seberapa pentingkah acara yang megah ini ?. Bisakah ini membangun sebuah kebangkitan atau justeru berujung pada sebuah kebangkrutan ?”.
“Bangsa yang senang hura-hura”…ujarku lirih. Sedih dan teriris memang dengan kondisi ini. Ditengah rencana kenaikan BBM di negeri ini. Ditengah harga yang melambung tinggi. Ditengah masyarakat miskin yang semakin bertambah maka pesta pora pun berlangsung.
Memperingati kebangkitan nasional memang penting, tapi memaknainya jauh lebih penting.
Satu catatan penting tentang bangsa ini adalah bangsa ini sebuah bangsa yang memiliki elemen umat islam terbesar di dunia. Maka kalau kita berbicara memaknai kebangkitan nasional mari kita kembali melihat jejak langkah kegemilangan umat islam di era awal.
Ada satu warna yang begitu kental ketika kita berbicara tentang mereka generasi awal umat ini , yaitu : iman, ilmu dan amal. Inilah kunci dan mata uang yang berlaku sepanjang masa. Dengan keimanan yang tinggi, generasi awal ini bergerak memperbaiki diri dan masyarakat. Dengan semangat ilmiah mereka membangun sebuah peradaban ilmu yang gilang gemilang dan dengan semangat amal mereka bergerak untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin.
Lantas sebuah pertanyaan kecil sekarang menunggu untuk kita jawab, ” Bisakah bangsa ini bangkit ?..”
Mentari
Mei 19, 2008
” Hari Ini hari milikku…juga esok ….” Pengggalan lagu dari abah Iwan abdurrachman ini memang sangat mengena sekali dalam jiwa. Sebuah keoptimisan yang tetap coba dipelihara dan dinyalakan dalam jiwa seperti mentari yang bersinar di pagi hari. Sangat cocok sekali, paling tidak untuk diri saya pribadi yang memang akhir-akhir ini banyak mengalami kejadian yang cukup menyulitkan diri saya. Yup..semangat mentari itulah yang memang harus saya miliki. semangat yang kata abah iwan harus menyala di urat nadi kita.
Sama seperti mentari yang butuh energi untuk berpendar, kitapun butuh energi untuk menyalakan mentari di tubuh kita. Dan pasti tidak mudah untuk menyalakan mentari di urat nadi kita kalau kita tidak memiliki sebuah keyakinan yang tinggi kepada sang maha. Sang sumber energi yang menggerakkan semesta raya yang besar ini.
“Allah….jiwa ini adalah milikMu. Aku yakin Kau lah sebaik-baiknya pemelihara yang maha adil. aku serahkan segala persoalan ini hanya kepadaMu wahai ar rahim….”
Dan Mentari inipun mulai menyala di ufuk jiwa, meski masih terlihat berkelip tapi sudah mulai terasa hangat dan sudah cukup untuk menghalau gelisah ini.
Kita butuh belajar dari Korea
Mei 17, 2008
In..do..ne..sia…duk duk duk duk duk…In ..do ..ne ..sia….
Gegap gempita piala Thomas dan piala Uber memang benar-benar membahana. Banyak orang yang tenggelam dalam semangat nasionalisme yang begitu menggelegak. Dan timnas Indonesiapun melaju dengan perjuangan yang luar biasa walau akhirnya tim Thomas kita kandas ditangan Korea tapi what ever..Bravo tim Thomas Indonesia….
Sekarang mari kita belajar dari korea yang telah menghancurkan mimpi kita mengembalikan piala Thomas ke bumi pertiwi. Korea adalah sebuah negara yang secara resmi masih ada dalam sebuah kondisi perang yang menjadikan negara ini terbagi menjadi dua bagian yaitu Korea Utara dan Korea selatan. Dalam kondisi ini tentu kalo kita melihatnya secara sederhana rasanya sulit negara ini bisa menjadi maju . Benarkah seperti itu ?. Untuk menjawab semua itu , mari kita cermati data-data berikut ini :
Perekonomian Korea Selatan sejak tahun 1960-an telah mencatat rekor perkembangan yang luar biasa. Perkembangan ini terutama ditentukan lewat integrasi negara ini kepada perekonomian dunia yang modern dan berteknologi tinggi. Saat ini pendapatan perkapita Korea Selatan telah setara dengan pendapatan negara-negara Uni Eropa.
Secara umum, perekonomian Korea Selatan lewat ditandai lewat tingkat Inflasi yang moderat, tingkat pengangguran yang rendah, surplus dari ekspor, dan pendistribusian pendapatan yang merata. Semua ini menandakan solidnya perekonomian Korea Selatan.
Menurut Kementerian Ekonomi dan Keuangan Korea Selatan, pada tahun 2006 perekonomian Korea Selatan akan terus berkembang walaupun ancaman kondisi eksternal seperti harga minyak dunia tetap membayangi. Pada tahun 2006 ini, Korea Selatan telah mereformasi sektor perpajakan yang sejalan dengan arah kebijakan ekonomi makro Korea Selatan pada paruh kedua tahun 2006. Komposisi perekonomian dilihat dari pendapatan per kapita Korea Selatan adalah sebesar 3.3 persen untuk sektor pertanian, 40.3 persen untuk sektor industri, dan 56.3 persen untuk sektor Jasa.
Ada lagi sebuah fakta yang harus kita cermati tentang korea, yaitu tentang perindustriannya.Produk korea mendapat perhatian begitu luas karena bermutu dan murah jika dibandingkan dengan produk Jepang, AS, dan Eropa. Teknologi Korea sebanding dengan teknologi negara tersebut. Produk Korea mendapat pengakuan dunia sehingga mendorong Malaysia memperoleh keahlian negara tersebut untuk membangun jembatan terpanjang ketiga di dunia, yaitu di Pulau Pinang.
Seperti Jepang, Korea adalah negara yang memiliki tradisi dan sejarah yang panjang. Proses modernisasi dan pembangunan yang pesat tidak menghilangkan sosial budaya dan adat istiadat yang diwarisinya secara turun temurun. Malah, orang Korea masih mempertahankan dan menerapkan nilai dan cara hidup lama. Meski begitu, mereka tidak menolak cara hidup modern dan pembaharuan yang terjadi di dunia.
Jika bangsa Jepang memiliki budaya kerja yang unggul dengan sifat kerajinan dan kedisiplinan rakyat Korea juga demikian Orang Korea tidak mengabaikan waktu kerja meskipun waktu bekerja telah ditetapkan. Jika istri pekerja Jepang merasa heran bila suami mereka pulang lebih awal, maka pekerja Korea juga merasa tidak sopan jika pulang lebih dahulu sebelum pimpinan mereka pulang.
Dengan bekerja sampai malam, pemimpin menjadi teladan karyawannya. Bangsa Korea tidak hanya memiliki sifat pekerja keras, tetapi juga komitmen yang tinggi pada pekerjaannya. Mereka juga bekerja dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Saat bekerja, bangsa Korea tidak melibatkan urusan pribadi karena mereka bersikap profesional.
Etos kerja ini dapat dilihat dalam kebanyakan perusahaan-perusahaan raksasa Korea seperti Samsung, Daewoo, Ssanyong, Hyundai, dan sebagainya. Bangsa Korea bekerja keras untuk memulihkan pandangan masyarakat dunia pada negara mereka yang sering mengalami pergolakan intern. Kekacauan ekonomi pada tahun 1997 hampir memberikan “pukulan maut” kepada Korea. Negara itu hampir bangkrut, sehingga terpaksa meminta bantuan IMF untuk memulihkan perekonomiannya. Dengan usaha yang sungguh- sungguh dan semangat tinggi, akhirnya, Korea mampu keluar dari masalah ekonomi dan krisis keuangan yang mengakibatkan jatuhnya perekonomian dan pemerintahan beberapa negara di Asia. Pemulihan yang dilakukan Korea itu membuat takjub karena mampu membayar pinjaman dan IMF dalam waktu tidak sampai lima tahun.
Selain budaya bekerja keras, rahasia keberhasilan Korea juga didukung oleh sikap dan pandangan mereka pada pekerja. Perusahaan-perusahaan Korea tidak menghentikan pekerja mereka dengan sewenang-wenang. Setiap pekerja dihargai dan dianggap sebagai aset perusahaan. Setiap pekerja yang tidak produktif dan kurang aktif diberikan latihan yang meningkatkan mutu dan daya kerjanya. Mereka diberikan motivasi dan rangsangan untuk memperbaiki kualitas kerjanya.
Perusahaan di Korea memiliki keyakinan yang mendalam dan harapan tinggi pada potensi setiap pekerjanya. Segala potensi dan kelebihan itu dimanfaatkan untuk memajukan perusahaan dan meningkatkan kualitas dan produktivitas pekerja. Budaya itu juga perlu dipelajari oleh masyarakat Indonesia, kemudian diterapkan dalam kehidupan keseharian mereka. Formula itu juga berhasil digunakan Jepang dan juga menjadi rahasia Korea.
Ada beberapa lagi syarat untuk menjadi bangsa yang berhasil dan hebat. Salah satu diantaranya adalah kreativitas Bangsa Jepang dan Korea memiliki kreativitas yang tinggi. Faktor tersebut menjadikan mereka bangsa yang maju. Botol air mineral kecil yang mungkin dianggap tidak bernilai, berhasil diubah menjadi produk komersial dan gaya yang populer di kalangan muda-mudi negara tersebut. Kreativitas menjadi salah satu ciri bangsa yang maju dan berhasil.
yup..itulah Korea…Bagaimana perasaan anda setelah membaca fakta tentang Korea ini ?. Kalau anda malu dan tertantang, anda sudah memiliki modal untuk mengalahkan mereka dan anda layak berkata : ” Di Piala Thomas kami kalah dengan Korea, tapi dikehidupan nyata, kami tidak sudi dikalahkan oleh Korea”.
Maka seorang temanpun berkata sambil berseloroh ; ” Kok bisa yah mereka luar biasa, padahal mereka merem…harusnya kita yang melek harus bisa lebih maju dong :D”
Kita butuh satu kata : ” OPTIMIS “
Mei 14, 2008

Siaran bincang bisnis malam ini betul-betul sangat mengesankan. Topik yang diangkat oleh narsum : DR. IR. Budi Jatmico M.si mendapat reaksi yang beragam dari sahabat mq. Ada warna sinis menyikapi kondisi makro indonesia saat ini. Nada-nada menyalahkan pemerintah begitu kuat mencuat. Tidak bisa disalahkan memang karena sudah selayaknya pemerintah ini ditegur atau bahkan disentil agar berfihak kepada masyarakat kecil di indonesia ini. Tapi bukankah itu tidak harus membuat kita tenggelam dalam sebuah sikap yang apatis dan akhirnya diam tanpa aksi?.
Krisis memang sudah terjadi dan akan terus terjadi. Dunia memang tidak pernah aman dan ideal bahkan di kondisi yang kita anggap sangat idealpun seperti era khilafah, tetap ada krisis, tetap ada kesulitan yang harus dihadapi manusia sebagai individu. Maksud saya, bahwa ada krisis di negara kita adahal satu hal dan persoalan diri kita adalah hal yang lain lagi. Berhubungan ?. jelas ada hubungannya tapi tidak lantas warnannya harus sama. Dalam artian kalau ada warna krisis di negara kita, tidak lantas warna krisis itu juga ada di diri kita. Bukankah kita bisa mengubah krisis itu sebagai peluang ?
Kita butuh keoptimisan.Bukankah rasul Muhammad saw pun adalah orang yang sangat optimis?. Coba lihat dan baca kembali sirah nabi kita. Bukankah krisis sering menerpa nabi kita dan umat islam saat itu.Bahkan krisis yang bisa menghilangkan eksistensi umat seperti dalam kejadian perang badar dan perang khandaq ( ahzab )?. Tapi apa yang dilakukan oleh nabi dan para sahabat. Adakah kata-kata : ” yaaaahhh…pasukan musuhnya lebih banyak ya Allah..mana mungkin islam menang ?”..tidak kan ?. Nabi malah berkata : ” Laa Ta khauf wa laa tahzan…Jangan takut, jangan bersedih …sesungguhnya Allah bersama kita…naaahhh…inilah modal yang amat penting yang akhirnya “memaksa” Allah menurunkan pasukan malaikat untuk menolong rasul dan para sahabat di pertempuran yang memmatikan yang berujung pada kemenangan.
Kita butuh keoptimisan..ingat ..harapan itu masih ada. tak peduli krisis kembali mengancam, kita masih punya Allah yang maha besar. Kita analisa lingkungan kita. Kita bangun kreativitas dan kita sambut kemenangan.
Hentikan keluh kesah itu. Jangan mengeluh, karena mengeluh hanya keluar dari jiwa yang rapuh. Bangkit..Bangun dan berjuanglah…Jawablah semuanya dengan kesabaran aktif yang berwarna perjuangan….ALLAHU AKBAR….



