
Siaran bincang bisnis malam ini betul-betul sangat mengesankan. Topik yang diangkat oleh narsum : DR. IR. Budi Jatmico M.si mendapat reaksi yang beragam dari sahabat mq. Ada warna sinis menyikapi kondisi makro indonesia saat ini. Nada-nada menyalahkan pemerintah begitu kuat mencuat. Tidak bisa disalahkan memang karena sudah selayaknya pemerintah ini ditegur atau bahkan disentil agar berfihak kepada masyarakat kecil di indonesia ini. Tapi bukankah itu tidak harus membuat kita tenggelam dalam sebuah sikap yang apatis dan akhirnya diam tanpa aksi?.
Krisis memang sudah terjadi dan akan terus terjadi. Dunia memang tidak pernah aman dan ideal bahkan di kondisi yang kita anggap sangat idealpun seperti era khilafah, tetap ada krisis, tetap ada kesulitan yang harus dihadapi manusia sebagai individu. Maksud saya, bahwa ada krisis di negara kita adahal satu hal dan persoalan diri kita adalah hal yang lain lagi. Berhubungan ?. jelas ada hubungannya tapi tidak lantas warnannya harus sama. Dalam artian kalau ada warna krisis di negara kita, tidak lantas warna krisis itu juga ada di diri kita. Bukankah kita bisa mengubah krisis itu sebagai peluang ?
Kita butuh keoptimisan.Bukankah rasul Muhammad saw pun adalah orang yang sangat optimis?. Coba lihat dan baca kembali sirah nabi kita. Bukankah krisis sering menerpa nabi kita dan umat islam saat itu.Bahkan krisis yang bisa menghilangkan eksistensi umat seperti dalam kejadian perang badar dan perang khandaq ( ahzab )?. Tapi apa yang dilakukan oleh nabi dan para sahabat. Adakah kata-kata : ” yaaaahhh…pasukan musuhnya lebih banyak ya Allah..mana mungkin islam menang ?”..tidak kan ?. Nabi malah berkata : ” Laa Ta khauf wa laa tahzan…Jangan takut, jangan bersedih …sesungguhnya Allah bersama kita…naaahhh…inilah modal yang amat penting yang akhirnya “memaksa” Allah menurunkan pasukan malaikat untuk menolong rasul dan para sahabat di pertempuran yang memmatikan yang berujung pada kemenangan.
Kita butuh keoptimisan..ingat ..harapan itu masih ada. tak peduli krisis kembali mengancam, kita masih punya Allah yang maha besar. Kita analisa lingkungan kita. Kita bangun kreativitas dan kita sambut kemenangan.
Hentikan keluh kesah itu. Jangan mengeluh, karena mengeluh hanya keluar dari jiwa yang rapuh. Bangkit..Bangun dan berjuanglah…Jawablah semuanya dengan kesabaran aktif yang berwarna perjuangan….ALLAHU AKBAR….


Ngeluh..ngeluh..ngeluh..Muak dengernya juga. Ga akan berubah keadaan cuma dengan ngeluh.
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’d: 11)
Sengaja ade kutip ayat itu secara lengkap semoga kita mau merenungkannya. Dan coba pula baca ayat berikut ini,
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan[663] suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi[664]. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taubah: 115)
Lalu apakah petunjuk ALLAH harus selalu yang kita anggap hidayah? Bisa ya, bisa tidak, tidak karena petunjuk ALLAH akan selalu ada jika kita minta, senantiasa melibatkan ALLAH, itu yang sering ditekankan oleh Rasul kita Muhammad saw.
Jadi yuk, beroptimislah..jangan ngeluh terus, jadi inget kata John F Kennedy ya, pikirkan apa yang udah kita kasih utk bangsa, bukan apa yang bangsa kasih utk kita. Klo kita cuma mikirin apa yg orang lain kasih utk kita, wah..bakalan cape. Toh yang ngasih semua itu ALLAH, jd berharapnya sama ALLAH, dan apa yang kita kasih ke orang lain semata karena ALLAH maka semua akan menjadi lebih indah sa pikir
Yang pertama,…koreksi dulu. Ko` tulisan buat komentar nya kecil & tipis banget ya?..tapi optimis lah masih bisa kebaca,…hehe..
Yang kedua,..setuju sama ade-ade,..kita tidak bisa terus mengeluh,.nggak menyelesaikan masalah, malah nambah parah.
Yuk, Optimis!! harapan itu masih ada!!! (eh,..komen na teu pararuguh nya???)