100 Tahun kebangkitan nasional akhirnya diperingati di Indonesia. Gegap gempita menjadi warna yang terbaca dan puncaknya adalah sebuah perayaan yang sangat mewah di ISTORA Senayan.
Ada sebuah keprihatinan tersendiri ketika menyaksikan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional di Senayan. Dalam benak terucap sebuah kata : ” Bangsa ini sedang krisis kok bisa-bisanya yah membuat sebuah acara yang sangat mewah seperti ini. Pasti mahal kan ?”. Benak inipun lantas melakukan sebuah kalkulasi kecil berdasarkan berbagai pengalaman mengadakan berbagai event dan keluarlah kesimpulan : ” sampai milyaran nih biayanya …”
Sebuah pertanyaan kembali muncul dibenak : ” seberapa pentingkah acara yang megah ini ?. Bisakah ini membangun sebuah kebangkitan atau justeru berujung pada sebuah kebangkrutan ?”.
“Bangsa yang senang hura-hura”…ujarku lirih. Sedih dan teriris memang dengan kondisi ini. Ditengah rencana kenaikan BBM di negeri ini. Ditengah harga yang melambung tinggi. Ditengah masyarakat miskin yang semakin bertambah maka pesta pora pun berlangsung.
Memperingati kebangkitan nasional memang penting, tapi memaknainya jauh lebih penting.
Satu catatan penting tentang bangsa ini adalah bangsa ini sebuah bangsa yang memiliki elemen umat islam terbesar di dunia. Maka kalau kita berbicara memaknai kebangkitan nasional mari kita kembali melihat jejak langkah kegemilangan umat islam di era awal.
Ada satu warna yang begitu kental ketika kita berbicara tentang mereka generasi awal umat ini , yaitu : iman, ilmu dan amal. Inilah kunci dan mata uang yang berlaku sepanjang masa. Dengan keimanan yang tinggi, generasi awal ini bergerak memperbaiki diri dan masyarakat. Dengan semangat ilmiah mereka membangun sebuah peradaban ilmu yang gilang gemilang dan dengan semangat amal mereka bergerak untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin.
Lantas sebuah pertanyaan kecil sekarang menunggu untuk kita jawab, ” Bisakah bangsa ini bangkit ?..”



1st comment..oups…diem aja deh..hehehe
menurut hemat saya..segala sesuatu yang akan kita peringati maka kita akan kembali lagi seperti asal mulanya. Misalnya kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, makanya kita seakan kembali lagi saat zaman Rasulullah yang artinya kita akan mengikuti segala sunnah Rasul dan menjauhi apa yang dibenci oleh Rasul.
Begitu juga dengan kebangkitan Nasional, seakan kita kembali ke saat detik-detik kebangkitan Nasional 100 tahun yang lalu, apa yang mereka lakukan maka kita juga melakukan seperti mereka.
Kalau peringatan yang diadakan sekarang yang terkesan mewah itu saya masih blm punya comment, karena bisa jadi dari pihak pembuat acara punya alasan tersendiri..
Dan saya ingin menambahkan..saya yakin penggerakan kebangkitan nasional dahulu adalah pejuang Muslim, karena Ustadz saya pernah bilang pejuang kita saat dulu adalah para Ulama, kiyai, Santri dan mujahid-mujahid Muslim yang taat, dan beliau berkata..kalau nggak percaya ya coba cek aja kuburan pahlawan..hehehe
Syukran…Wallahu A’lam
no comment deh soal acara semalem. Tapi ternyata ada sebuah kenyataan yang bisa kita lihat, jangan hanya melihat acara semalam, lihatlah acara-acara semacam pagelaran atau expo-expo, konser juga yang klo diperhatikan sejauh yg sa tau, biaya tiket aja 100ribu tuh minimal, malah bisa sampe sejutaan lebih. Berarti memang negeri ini kaya kan sama orang kaya, tapi qt juga ga bisa menutup mata dari kenyataan bahwa yang kurang beruntung dlm segi finansial juga ga kalah banyaknya. Banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran. Dan tentu harus bisa mewujudkan kata “Indonesia Bisa” itu dalam kerangka positif dan optimis. Ayo, bangkitlah, seperti sebuah nasyid dari shoutul harokah, “Bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada. Berjuanglah bangsaku, jalan itu masih terbentang.”
Dan ingat, ALLAH tidak akan merubah suatu bangsa jika mereka tidak merubah diri mereka sendiri. Kesadaran itu kuncinya.