Ironi itu bernama Indonesia
Juni 19, 2008
Perjalanan di atas kereta dari Bandung menuju Jakarta kali ini menyisakan kesan yang luar biasa. Banyak pemandangan yang membuat merenung dan membuat saya menggeleng-gelengkan kepala. Banyak pemandangan kontras yang awalnya saya tidak yakin ini terjadi di negeri yang dijuluki “ sepotong surga yang ada di Bumi “ Zamrud khatulistiwa ini.
Pembangunan yang tidak seimbang sepertinya sedang menuai akibat. Sungai besar yang seharusnya jernih telah berubah menjadi saluran pembuangan besar yang berwarna hitam dan berbau tidak sedap. Kehijauan alam yang indahpun terganggu dengan berbagai bangunan pabrik yang dibangun di tengah areal pesawahan yang indah, betul – betul mengganggu mata yang sedang menikmati indahnya alam ini.
Hamparan sampah yang menjijikan semakin membuat dahi ini mengkerut-kerut, sudah separah inikah kebiasaan buruk bangsa ini. Sudah tidak pedulikah kita pada alam ini. Sudahkah kita tidak peduli lagi pada keselamatan kita sendiri.Bukankah itu semua akhirnya berimbas pada kita sendiri ?. Coba sejenak kita tengok berbagai bencana yang kerap menyapa negeri kita . Banjir, penyakit menular dan berbagai permasalah lainnya bukankah semakin sering menyapa kita akhir-akhir ini. Bencana yang seringkali kita lemparkan ke muka orang lain atau bahkan ke muka sang pencipta semesta ini dengan melabelinya dengan bencana alam. Pertanyaannya adalah, benarkah itu bencana alam atau bencana yang kita rencanakan ?.
Saatnya bangsa ini keluar dari krisis yang kita buat sendiri. Saatnya kita sadar bahwa sesunguhnya bukan sang pencipta yang sedang menghukum kita tanpa sebab. Kitalah yang terus menerus menantang Dia untuk menjalankan sebuah sistem yang bernama sunatullah. Sunatullah yang bekerja atas kezaliman kita terhadap alam .Sunatullah yang bekerja atas ketidakpedulian kita atas diri kita.
Allah swt tetaplah Allah yang maha pengasih dan maha penyayang . Dialah yang telah menempatkan kita di sebuah negeri yang begitu indah bernama Indonesia ini dan adalah sebuah ironi yang menyedihkan saat kita celaka dan sengsara di negeri penuh karunia ini. Saatnya kita menjadi hamba Nya yang mampu bersyukur dengan cara mengubah habit kita agar lebih bersahabat lagi dengan alam. Negeri ini tidak bisa menunggu. Lakukan apa yang bisa kita lakukan.
Juni 19, 2008 pukul 5:44 pm
klo anak-anak nyanyi, mereka nyanyiin lagu ini A
“Itulah Indonesia”
surga yang dengan sendirinya kita terusir menuju neraka..na’udzubillah. Semoga kita bisa memperbaiki semua..
Juni 21, 2008 pukul 7:26 pm
astaghfirulloh.. ya..smg aja kang saudara2 kita yg berbuat zalim kpd mahlukx alloh yg lain di berikan hidayahnya..
Juni 21, 2008 pukul 7:32 pm
oh ya kang mQ paginya kapan bs on-air lagi??
tolong yah jk nanti udah siap on-air lg di infokan d sini yah.. tolong..
saya rindu…banget dgr kajian2nya Aa’gym,
dan tentnya jg suaranya kang agus yg susah…banget saya tirukan..
syukran kang”
Juni 23, 2008 pukul 8:58 am
# esa
Iya de..naudzubillah
# Kazin
Yup..kita terkadang tidak sadar bahwa kita sendiri mungkin termasuk yg dzalim ya..astaghfirullah…
MQ FM insya Allah on air lagi senin depan 30 june..insya Allah.
Juli 15, 2008 pukul 7:45 pm
Assalamualaikum, Kang. Damang?
Waduh, jd sedih.. di jmb listrik mati tiap 4 jam, bensin sekarat, air kritis- syukurnya dah mulai hujan. eh, mlh laporan.
O y, smg cpt on air lagi. keep da best, Mq ^-^