Perjalanan seperti biasa menjadi sesuatu hal yang saya sukai. Ada banyak alasan kenapa saya suka dengan perjalanan, satu diantaranya adalah saya bisa lepas dari rutinitas hingga ujungnya mampu untuk memberikan kembali energi untuk beraktivitas.Namun sesungguhnya ada yang lebih penting dari itu semua yaitu saya bisa menikmati ayat-ayat Allah yang terbentang sepanjang perjalanan. Hamparan sawah yang menghijau, gunung yang menjulang tinggi sampai aliran sungai yang deras semuanya selalu berhasil membuat saya merenung dan merenung.
Dan perjalanan kali ini pun kembali menoreh hikmah. Saat saya harus pulang ke tanah kelahiran yaitu Sukabumi untuk menyelesaikan beberapa urusan keluarga yang betul-betul membuat saya penat karena sangat pelik.Urusan yang saya akui belum sampai pada kata tuntas. Semuanya telah membuat saya terdiam cukup lama dan tak mampu berkata banyak hingga Allah mengajak saya tersenyum dengan caranya yang indah.
Saat itu ketika bus melaju kembali menuju Bandung, Allah membimbing saya untuk membaca sebuah buku yang diberikan oleh seorang saudara di jalan Allah dimana Dia dengan caranya yang indah menuntun saya ke halaman yang isinya adalah bahasan tentang kesabaran dan ke syukuran. Terus terang saya tersentak dengan bahasan itu, seolah baru sadar tentang adanya perintah ini. Padahal kata sabar dan syukur tentulah bukan hal yang aneh buat saya. Kata yang bahkan sering saya sampaikan di berbagai moment termasuk ketika saya siaran atau mengisi taklim. Tapi kali ini kata-kata itu terasa begitu menghujam dalam hingga ke lubuk sanubari. Kata yang betul-betul menggetarkan dan penuh energi yang sanggup menjebol perasaan. Kata tersebut telah mendapat tempat yang baru yang awalnya hanya di ruang kosa kata saja menuju pemaknaan yang mendalam.
Tidak cukup itu saja, Allah pun kemudian menuntun saya untuk mengacak halaman buku itu dan sampai pada sebuah bahasan tentang kekuatan .Dimana dihalaman itu diceritakan tentang rekan dari syaikh abdullah azam sang panglima jihad afghanistan yang begitu merindukan Allah dengan cara syahid dijalannya..Jelas terasa sekali bagaimana kerinduan yang memuncak pada Allah itu akhirnya telah membangkitkan sebuah semangat yang tidak mudah patah. Semangat yang kita tahu adalah sebuah aset sangat berharga bagi seorang mujahid karena begitulah sejatinya seorang mujahid. Senantiasa bersemangat dan tidak kenal menyerah. Dan memang demikianlah seharusnya seorang mujahid.
Saya pun menghela nafas sangat panjang. Mata saya menerawang menembus kaca bus ini dan sayapun tersentak karena menemukan Allah ”sedang tersenyum begitu indah ”. Allah ”tersenyum” lewat langit biru berselimut awan yang tampak sangat indah seolah mengajarkan saya arti sebuah ketenangan, bahwa ketenangan itu tidak harus biru jernih karena langit tetaplah langit meskipun berselimut awan hitam dan putih. Langit tetaplah langit dan akan tetap jadi langit.Bukankah begitulah seharusnya ketenangan bathin seorang yang telah berikrar menjadi seorang yang memeluk akidah Islam ini?.Bukankah seharusnya dia akan senantiasa tenang dalam kepasrahan kepada-Nya meski sejuta masalah menyelimutinya?.Bukankah begitulah seharusnya?.
Dan sayapun menemukan Allah sedang ” tersenyum ” lewat bahasa kekokohan barisan pegunungan di kawasan Cianjur ini. Sang gunung yang nyaris setiap hari digerogoti kekokohannya lewat cangkul para petani dan para penambang batu karst.Namun dia tetap tegar dan kokoh. Gunung tetaplah menjadi gunung dengan terus menyebar manfaat bahkan kepada sang petani dan sang penambang yang terus menjamahnya tanpa henti.Bahkan sang gunung masih sempat memberikan keindahannya untuk manusia yang memandanganya dari kejauhan. Memberi manusia kebahagiaan dengan tampilannya yang tetap eksotik dan mengagumkan.Dan sayapun berfikir seperti itulah seharusnya seorang hamba yang telah berikrar untuk mengikuti jejak langkah penghulu para nabi, sang ULUL AZMI yang begitu kokoh dengan langkah-langkahnya menuju keridhaan Allah dengan jalan menyebar manfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia…merekalah orang-orang yang tidak pernah kenal lelah dalam menjalani kehidupannya.Merekalah orang yang senantiasa tegar dalam deraan kesulitan yang seoalah tanpa ujung.
Lantas air mata inipun menetes dihadapan wajah Allah yang agung itu. Dan saya lihat wajah itupun mendekat semakin dekat lantas bersemayam dalam tahta keimanan di dalam qolbu ini.
Lalu diatas sana saya lihat Allah ”tersenyum ”semakin indah. Lebih indah dari apapun yang terkategorikan indah di dunia ini…


Subhanallah, Allahuakbar! Semoga selalu dapat mensyukuri semua nikmat yang Allah berikan ini dan semoga selalu diberikan cahaya hati. Amin. Barokallah.
Subhanallah, indah sekali cara Allah berdialog dengan hamba-Nya…
nuhun A, telah berbagi hikmah. Saya juga teringat saat kita melakukan perjalanan bersama ke Cianjur… senang sekali bisa melakukan perjalanan yang penuh inspirasi.. semoga suatu saat dapat bersama dlm perjalanan yang lain…
Alhamdulillah..
Allah begitu dekat, takkan biarkan hamba-Nya sendirian.
Subhanallah..
Betapa indah ketika kita dekat dengan Allah..
Kemanapun yang kita lihat, selalu terlihat wajah Allah..
Dan kerinduan itupun semakin dalam
Rindu untuk dapat berjumpa denganNYA..
Jazakallah Kang, membaca ini membuat hati bergetar
Alhamdulillah bisa membaca tulisan Kang Agus ini.
subhanallah,,kata SABAR dan SYUKUR memang kata2 yg mudah di ucapkan,namun pelaksanaannya..?
Semoga kita selalu menjadi hambaNya yg selalu bersabar & bersyukur,amien..
baarokallaahu fik..
Terima kasih smsnya A. Juga tulisannya. Seringkali cara Allah mengingatkan kita membuat kita tersentak, padahal ia familiar dg kita.
Seringkali ketika Allah menghibur kita, tak satupun yang dapat mengartikan.
Seringkali ketika penat muncul, Allah membimbing kita ke sebuah keadaan yang membuat kita kembali tersenyum.
Itulah Allah. Penuh dengan kejutan tak terduga.
sabar dan syukur merupakan karakter orang-orang beriman…..alangkah bahagianya jika kita dapat memupuk dan membuktikan karakter itu dihadapan Allah
# all
Iya..begitulah Allah ..al jamil…
semoga Allah terus membuka hijabnya untuk kita..hingga terang …indah jalan hidup kita..
Alhamdulillah ibu diberi kesempatan menyimak tulisan kg agus
Subhanallah, tak terukir dengan kata, rasa itu yang kang?
Kata orang alim SABAR+SYUKUR ibarat kepala+badan bagi orang mu’min, tapi Kang tuk merasakan fungsinya butuh mujahadah meraih hesucian+keihlasan hati ya.
*Ya Allah hambapun ingin merasakan keindahan senyum Mu seperti yang dirasakan sahabatku yang satu ini.
Ya Robbi tolong biaskan ampunan, kesucian dan keihlasan kedalam qolbu hamba Mu yang bergelimang dosa ini, tuk membuka hijab agar dapat menatap menikmati keindahan sunyum Mu Yaa Ghoffar, Yaa Mu’izz, Yaa Badii’. Amin.
*Kang ketika sudah dapat memandang indahnya senyuman Allah, rasanya bibir inipun akan slalu tersenyum, tak pantas tuk cemberut. Ih….malu ya kang. Yaa Haadii bimbinglah kami.
Subhanallah,memang senyum Allah itu tidak dapat kita gambarkan,tapi di samping itu saya minta tolong pada sahat2 sekalian,saya benar2 sekarang dalam keadaan buta batin,entah jalan yang gimana yang harus aku tempuh untuk mencari kebenaran yg hakiki,dikalo teman semua mau berkenan menolong saudaramu ini saya minta nasehat dan pituturnya agar hamba Allah ini di berikan jalan kebenaran.ni alamat email saya {Ardhat13@yahoo.com}
assalamu’alaikum wr.wb.Subhanallah kang,saya terharu membaca tulisan tsb,semoga saya dibimbing-Nya untuk bisa meneladani kelembutan hati k’agus.Sebenarnya dulu saya juga begitu tapi entah kenapa sakarang saya sulit..saya merasa tak sedekat dulu dengan Allah.Saya takut..mohon doanya semoga saya bisa kembali berjalan di atas jalan cinta-Nya.Amin.dan semoga kang Agus selalu dicintai Allah.