Perubahan
Juli 22, 2008
Siang ini, ditengah teriknya sinar mentari dan ditengah menu yang dinikmati dengan agak malas-malasan, sebuah tayangan di metro TV telah berhasil menyita perhatian saya. Saat itu metro 10 menampilkan sepuluh peristiwa yang dinilai telah merubah kondisi Indonesia. Amat menarik memang menyimak itu semua, bagaimana tidak ternyata begitu banyak dan dahsyat peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia. Peristiwa yang merubah bangsa secara radikal dan revolusioner.
Berbicara tetntang perubahan, memang pasti amat menarik karena inti dari hidup memang perubaha itu sendiri. Pantaslah kalau Rasul Muhammad saw berpesan kepada umatnya tentang perubahan yang intinya adalah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Karena kalau hari ini masih sama dengan hari kemarin maka rugilah kita dan kalau lbih jelek, celakalah kita. Inilah sebuah pesan yang amat revolusioner. Pesan perubahan yang menantang umat ini untuk senantiasa melakukan perubahan dan perbaikan. Pesan yang terkadang sering kita lupakan saat kita ada dalam kemapanan.
Kenapa lupa tentang perubahan itu hadir saat kemapanan menjadi milik kita ?. Inilah sebuah pertanyaan yang harus terus kita renungkan.
Sekarang mari kita sedikit ulas tentang kemapanan itu sendiri.Kamapanan menurut saya bukan hanya bersifat materi. Tapi lebih bersifat sebuah kondisi perasaan yang dalam hal ini adalah rasa puas dan merasa sudah sampai di puncak keadaan. Jadi kemapanan ini bisa saja ada dalam kondisi berlebihan harta kekayaan atau juga bisa hadir saat kemiskinan menelikung dan mengepung yang pasti dia merasa bahwa situasi itu adalah situasi yang sudah tidak perlu dirubah lagi. Dan inilah sebuah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan umat manusia. Saat perubahan sudah diharamkan dan kemudian dianggap sesuatu yang membahayakan sebuah stabilitas.
Kondisi anti perubahan ini adalah sebuah keadaan yang harus diwaspadai. Karena saat manusia tidak ingin berubah maka Allah SWT yang akan merubahnya. Sudah banyak contoh dari ini semua. Cobalah simak apa yang terjadi pada firaun dan konco-konconya yang menentang rumus perubahan yang ditawarkan oleh Musa a.s. Simak pula nasib kaum Nabi Nuh yang tidak mau berubah dengan dakwah yang mengusung nafas perubahan. Atau mungkin lihatlah contoh yang ada di negeri kita. Betapa Tsunami telah merubah sebuah keadaan yang sudah nyaris pada sebuah kata tidak mungkin berubah dalam hal ini berhubungan dengan semangat separatisme yang tak kunjung juga terselesaikan bertahun tahun. Tsunamilah akhirnya yang membuat semua elemen bangsa ini berubah dan kemudian mencoba untuk bergandengan tangan kembali, bahu membahu untuk membangun kembali Aceh darussalam setelah sekian lama baku hantam menumpahkan darah dan air mata.
Sekali lagi patut kita renungkan, perubahan adalah sebuah rumus abadi yang pasti akan terjadi, dengan atau tidak bersama kita didalamnya. Dan akhirnya, saatnya kita bertanya : “ sudahkah kita berubah dan melakukan perubahan?. Kalau belum, maka bersiaplah dengan perubahan yang akan datang tanpa kita minta dan menyeret kita ke rel perubahan itu “.
Selamat berjuang untuk melakukan perubahan. Mari kita mulai dari diri kita sendiri dengan membuka kepala kita dari berbagai pengetahuan dan informasi terkini. Berhentilah berbicara tentang diri sendiri dengan kacamata sendiri. Karena kita butuh memandang orang lain sebagai parameter apakah kita sudah berkualitas atau belum. Ingatlah…dunia tidak sesempit kamar tidur atau kamar kerja kita.
Menyalakan pelita di tengah Badai
Juli 22, 2008
Sebuah kegelisahan dan perenungan dari agus al muhajir
Badai yang menerpa negeri ini belum usai juga. Belum usai urusan rakyat yang masih tetap sengsara, hingar bingar politik Indonesia kembali membahana. Belum usai masalah PILKADA yang begitu marak, bangsa kita sudah mulai akan disibukan oleh PEMILU 2009 yang proses kampanyenya akan kita jelang sesaat lagi.
Fantastis kata ini saya ucapkan berkali-kali di pagi ini. Bagaimana tidak, ditengah krisis yang berkepanjangan, bangsa kitapun harus mengeluarkan ongkos yang sangat besar untuk sebuah pesta yang bernama pesta demokrasi. Bayangkan, salah satu partai di Indonesia yang bernama Partai Golkar saja menyediakan dana 200 Miliyar untuk kampanye 2009. Itu hanya untuk kampanye 2009, belum masuk dalam hitungan biaya yang dikeluarkan untuk membiayai PILKADA yang diikuti oleh partai tersebut. Ini baru satu partai padahal kemarin KPU baru saja mensyahkan ada 34 partai politik yang berhak ikut PEMILU 2009. Memang mungkin dana yang dikeluarkan partai lain tidak sebesar partai GOLKAR, tapi rasanya tidak akan jauh kecil dari angka tersebut. Itu baru hitungan partai, kita pun bisa menghitung berapa biaya yang dikeluarkan oleh para Aleg agar dia terpilih menjadi anggota Dewan. Kalau kita mengutip saja apa yang dihitung oleh DR Ikrar Nusa bakri yang memperkirakan bahwa satu orang aleg itu mengeluarkan uang sekitar 200 juta maka kita pun bisa menghitung jumlah uang yang beredar dengan asumsi bahwa sebuah partai besar menyediakan 14.000 anggotanya untuk jadi aleg, Partai menengah 8.000 anggota dan partai kecil 5.000 orang , maka silahkan hitung berapa rupiah yang harus dikeluarkan.
Mencermati hitung-hitungan rupiah diatas yang amat fantastis, saya jadi ingin bertanya seperti apakah korelasinya biaya yang begitu besar itu dengan kesejahteraan rakyat. Akankah pesta demokrasi ini menjadi sebuah solusi untuk carut marutnya bangsa ini atau hanya akan berujung seperti lazimnya sebuah pesta, yaitu tumpukan sampah dan piring kotor yang harus dibenahi plus bon tagihan yang harus dibayar segera yang terkadang tak jarang untuk menutupi tagihan tersebut, maka barang pusaka milik keluargapun harus kita gadaikan atau kita jual.
Negeri ini memang butuh orang-orang yang siap berjuang untuk memberi solusi yang tepat. Untuk itulah kita sebagai masyarakat harus sangat jeli untuk memilih para pemimpin kita. Sudah bukan saatnya kita memilih para pemimpin karena kegantengan atau ketenaran mereka. Karena satu saat nanti kita akan menyesal saat topeng itu mereka simpan dan menampakkan wajah aslinya. Jangan pernah tertipu lagi dengan bualan palsu yang penuh kosmetika politik yang penuh nafsu. Negeri ini butuh pemimpin yang bukan sekedar terkenal atau berpengalaman. Negeri ini butuh seorang pemimpin yang memiliki integritas moral yang tinggi. Yang memiliki visi jauh ke depan bahkan menembus alam dunia yaitu akhirat. Negri ini butuh pemimpin yang pandai mengurai krisis menjadi benang yang bisa ditegakkan. Merekalah para intelektual sekaligus ulama yang Allah SWT sebut sebagai “ulil albab”.
Untuk itulah sudah saatnya kita menyalakan cahaya pelita ditengah kegelapan ini. Cahaya yang dalam bahasa arab kita sebut NUR yang apabila ada di dalam jiwa kita, maka itu kita sebut NURANI. “ Tanyalah pada hatimu “ begitu rasul bersabda. Maka kita sebagai umatnya tentu sudah seharusnya mengikuti apa yang disabdakan rasul kita tercinta yaitu bertanya pada hati kita, bertanya pada nurani kita yang berisi fitrah diri. Fitrah yang didefinisikan dengan amat jelas oleh Allah SWT dalam al Quran surat ar Ruum : 30 : “ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui “ . Itulah fitrah. Fitrah yang berarti agama yang lurus, Dienul islam.
Masalah yang mendera bangsa ini terlau berat jika kita hanya menyerahkannya pada akal kita. Saatnya kita kembali kepada fitrah kita. Saatnya negara ini dijalankan sesuai dengan fitrah sebuah bangsa yaitu kembali pada syariat islam hingga kita tidak lagi perlu berjudi dengan biaya yang tinggi untuk mencari solusi bagi bangsa ini. Dan untuk memulainya, mari kita tegakkan syariat di dalam diri kita. Jadilah pribadi – pribadi yang memiliki komitmen yang tinggi kepada syariat, hingga syariat islam ini akan senantiasa menjadi bahan bakar setiap desah nafas dan gerak langkah kita. Syariat pula lah yang akan memandu kita untuk memilih para pemimpin kita, karena kita tidak sudi dipimpin oleh para thagut yang merupakan musuh abadi dari syariat islam, syariat Allah ini.
Semoga bumi Indonesia ini bisa menjadi tanah yang subur untuk penyemaian bibit-bibit kebangkitan umat ini dan kita lah para penyemainya itu, bukan penonton yang hanya mampu bertepuk tangan dan bersorak sorai di pinggir ladang amal yang menantang ini.
Bandung,11 Juli 2008
Ditengah mentari pagi yang bersinar indah hari ini.
Refleksi
Juli 22, 2008
Saya ingat pada suatu waktu di selasar mesjid Daaruttauhid, saya dan AA gym berbincang-bincang cukup panjang.Pada saat itu kami berbincang tentang banyak hal termasuk tentang radio MQ tempat saya berjuang. Ada satu kata-kata yang betul-betul membuat saya merenung begitu dalam saat beliau berkata : “ Gus, semua yang terjadi ini sebenarnya harus kita lihat dengan cara yang reflektif. Kita tanya kepada diri kita, kenapa ini terjadi?. Apakah diri kita sudah benar-benar lurus dan terhindar dari sifat munafik ?”. Kata – kata itu terus terngiang-ngiang sampai pada waktu saya melaksanakan sholat malam pada saat itu. Dimana malam itu saya hanya mampu melakukan sholat dua rakaat dan sisanya adalah merenung sampai tibanya saat subuh. Perenungan yang menghasilkan air mata yang sepertinya tak habis menetes membasahi sajadah tempat bersujud yang teramat lama malam itu.
Sebuah pengakuan hati kecil yang menggetarkan jiwapun terdengar begitu jelas di telinga hati ini yang membuat nuranipun lirih berkata : “ iya…Semuanya adalah salah kita sebagai manusia.”. Allah telah merancang dan mengakaruniakan hidup yang begitu indah kepada kita dan kitalah yang mengotorinya dengan dosa dan kebodohan kita. Bukankah kita tahu bahwa bumi ini hanya akan diwariskan kepada orang-orang yang shaleh diantara manusia?. Dan bukankah kita juga tahu, bahwa tugas dakwah ini adalah tugas bagi orang-orang yang terpilih dan dipilih oleh DIA yang maha suci ?.
Ya….. itulah sebuah pertanyaan yang menggedor keadaran jiwa ini dan menyisakan sebuah agenda. Saya harus memperbaiki diri lagi. Harus lebih sholeh lagi, lebih profesional lagi dan lebih berkualitas lagi.
Selamat datang malam…
terimalah sujud ini …
terimalah simbol kepasrahan dan ketundukan akal dibawah otoritas Mu itu
Kami tidak akan pernah bisa memaksa pagi datang sebelum waktunya
Kami hanya bisa berjalan di bawah naungan sinar rembulan dan bintang gemintang di malam milikMu ini
Kami akan coba menikmati pekat ini dengan sujud dan rukuk kepada MU
Rubahlah kami..
bimbinglah kami…
sucikanlah diri dan jiwa kami ..
bimbinglah kami ….
agar kami kembali Kau nilai layak untuk mengemban kembali tugas dakwah ini.
Amin ya rabb….
Bandung, 15 Juli 2008. Di sudut ruangan kerja yang menghadap ke taman yang indah.
Hijau royo-royo
Juli 22, 2008
Sudah cukup lama saya tidak mendengar kata hijau royo-royo. Kalau saya tidak salah ingat kata itu terakhir begitu mempengaruhi ingatan saya adalah sewaktu tahun 1994 an saat seorang guru sejarah SMA saya bercerita tentang ideologi yang ada di Indonesia.
Hijau royo-royo memang sering dipakai sebagai sebuah simbol menggeliatnya gerakan islam di permukaan perpolitikan Indonesia. Kata ini pula seringkali diidentikan dengan berdirinya Ikatan cendekiawan Muslim Indonesia ( ICMI ) yang pada akhirnya kerap menjadi penyedia stok para mentri yang dipakai oleh ORDE Baru di ujung kekuasaannya.
Islam dan kekuasaan, kata itulah yang akhirnya menjadi sering kali menjadi topik pembicaraan saat kita mengulas tentang hijau royo-royo itu. Tidak bisa dipungkiri memang pada saat “ mentri hijau “ ini menghiasi kabinet maka berbagai kepentingan umatpun satu demi satu mencuat disuarakan dengan suara yang cukup nyaring.
Meski belum optimal, hijau royo-royo yang pernah menjadi warna kabinet di era lalu itu telah menjadi salah satu tonggak kebangkitan harga diri umat islam di Indonesia. Hijau royo-royo yang telah mengubah warna wajah umat yang sudah sekian lama dipingirkan dari gelanggang kekuasaan negara Indonesia.
Hijau itu kembali mencuat dan menguat. Saat ribuan orang aktivis KAMMI mengepung Jakarta dan Kota-kota besar lainnya untuk meyuarakan perubahan. Saat para pengusung bendera hijau yang dulu terpaksa mengungsi di tanah orang kembali ke negeri tercinta dan menjadi motivator sekaligus aktor-aktor penting untuk perubahan bangsa.
Maka perubahanpun terjadi di negeri ini. Rezim Soeharto runtuh ditengah gegap gempita teriakan kemenangan dari kaum reformis yang bukan lagi berwarna homogen hijau, namun telah bercampur menjadi hijau dan merah yang berujung pada sebuah kondisi yang nyaris sama dengan kondisi masa lalu yaitu kebingungan. Kebingungan yang nyaris sama dengan saat terjadinya pertarungan antara Piagam jakarta dan mereka yang tidak setuju dengan tujuh kata di point pertamanya. Pertarungan yang tidak jauh beda dengan pertarungan antara MASYUMI melawan kaum nasionalis sekuler dan kaum sosialis. Pergulatan yang membuat hijau dan merah memulai kembali pertarungan abadinya hingga sang tiran mendapatkan lagi oksigen untuk bernafas dan menelikung lagi dalam kekisruhan.
Maka hijau royo-royo inipun terluka lagi saat tuduhan-tuduhan kotor itu kembali dilemparkan pada muka umat ini. Ideologi umat sekarang diidentikan dengan Terorisme bahkan dengan sangat kurang ajar seorang intelek negeri ini menghubungkan dana Zakat Infak dan Shadaqah dengan dana untuk melakukan aksi terorisme. Sungguh keterlaluan.
Hijau ini memang harus terus bergerak. Hijau ini haruslah seperti lumut yang tetap setia menjadi pioner kehidupan di atas batu cadas yang teramat keras. Hijau ini harus tetap tumbuh seperti rumput yang tidak pernah punah meski terus diinjak dan disakiti. Hijau ini harus tetap tumbuh membangun sebuah belantara yang indah. Hijau itu tetap haruslah menjadi icon kecerdasan dan kekuatan. Hijau harus tetap tampil sejuk. Anginnya yang sepoi-sepoi harus tetap menandakan dan memberi kehidupan. Hijau akanlah tetap menjadi ruh kehidupan ini. Wa makara wamakarallah…innallaha khairummakirin…Saat mereka membuat makar kepadamu, maka Allah pun berbuat makar kepada mereka. Dan Allah adalah sebaik-baiknya pembuat makar.
Satu harapan untuk hijau royo-royo. Semoga kita tidak malu-malu untuk menunjukan hijau kita. Karena firdaus itu adalah taman yang hijau yang berisikan para pejuang di jalan Allah. Berkibarlah bendera hijauku….Jangan berhenti hingga ajal mengantarkan kita ke taman firdaus yang teramat hijau itu.
Bandung, 11 Juli 2008 di kehingan jelang sholat Jumat
Ironi itu bernama Indonesia
Juni 19, 2008
Perjalanan di atas kereta dari Bandung menuju Jakarta kali ini menyisakan kesan yang luar biasa. Banyak pemandangan yang membuat merenung dan membuat saya menggeleng-gelengkan kepala. Banyak pemandangan kontras yang awalnya saya tidak yakin ini terjadi di negeri yang dijuluki “ sepotong surga yang ada di Bumi “ Zamrud khatulistiwa ini.
Pembangunan yang tidak seimbang sepertinya sedang menuai akibat. Sungai besar yang seharusnya jernih telah berubah menjadi saluran pembuangan besar yang berwarna hitam dan berbau tidak sedap. Kehijauan alam yang indahpun terganggu dengan berbagai bangunan pabrik yang dibangun di tengah areal pesawahan yang indah, betul – betul mengganggu mata yang sedang menikmati indahnya alam ini.
Hamparan sampah yang menjijikan semakin membuat dahi ini mengkerut-kerut, sudah separah inikah kebiasaan buruk bangsa ini. Sudah tidak pedulikah kita pada alam ini. Sudahkah kita tidak peduli lagi pada keselamatan kita sendiri.Bukankah itu semua akhirnya berimbas pada kita sendiri ?. Coba sejenak kita tengok berbagai bencana yang kerap menyapa negeri kita . Banjir, penyakit menular dan berbagai permasalah lainnya bukankah semakin sering menyapa kita akhir-akhir ini. Bencana yang seringkali kita lemparkan ke muka orang lain atau bahkan ke muka sang pencipta semesta ini dengan melabelinya dengan bencana alam. Pertanyaannya adalah, benarkah itu bencana alam atau bencana yang kita rencanakan ?.
Saatnya bangsa ini keluar dari krisis yang kita buat sendiri. Saatnya kita sadar bahwa sesunguhnya bukan sang pencipta yang sedang menghukum kita tanpa sebab. Kitalah yang terus menerus menantang Dia untuk menjalankan sebuah sistem yang bernama sunatullah. Sunatullah yang bekerja atas kezaliman kita terhadap alam .Sunatullah yang bekerja atas ketidakpedulian kita atas diri kita.
Allah swt tetaplah Allah yang maha pengasih dan maha penyayang . Dialah yang telah menempatkan kita di sebuah negeri yang begitu indah bernama Indonesia ini dan adalah sebuah ironi yang menyedihkan saat kita celaka dan sengsara di negeri penuh karunia ini. Saatnya kita menjadi hamba Nya yang mampu bersyukur dengan cara mengubah habit kita agar lebih bersahabat lagi dengan alam. Negeri ini tidak bisa menunggu. Lakukan apa yang bisa kita lakukan.